Page 472 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 NOVEMBER 2021
P. 472

Akhirnya,  Konfederasi  Serikat  Buruh  Seluruh  Indonesia  (KSBSI)  wilayah  Lampung  mencoba
              menyuarakan aspirasinya di Gedung DPRD Lampung, Rabu (24/11/2021).
              Kepala Dinas Tenaga Kerja Lampung, Agus Nompitu bersikeras penetapan UMP Lampung 2022
              sudah sesuai dengan formulasi. Acuannya, UU Nomor 11 tentang Cipta Kerja, PP 36 tahun 2021,
              dan  Surat  Edaran  (SE)  Menaker  No:  B-M/383/HI.01.00//XI/2021  tentang  Penyampaian  Data
              Perekonomian dan Ketenagakerjaan dalam Penetapan Upah Minimum Tahun 2022.

              "Semua formula berdasarkan data BPS terkait kondisi inflasi, PDRB kondisi makro, dan kondisi
              tenaga kerja sudah dijelaskan secara rinci," ungkap Agus. Namun begitu, ia berjanji menampung
              aspirasi serikat buruh untuk disampaikan ke pemerintah pusat.

              "Kita juga berharap penolakan ini berjalan kondusif agar iklim investasi tidak terganggu," ujar
              Agus.

              Ia menjelaskan, penetapan UMP ini untuk buruh pekerja di bawah satu tahun. Sedangkan lebih
              dari 1 tahun, berdasarkan struktur gaji perusahaan dan skala upah. Bagi yang melanggar akan
              ada sanksinya. Dalam UU Cipta kerja bisa dipidana 1 sampai 4 tahun dan atau membayar Rp100-
              400 juta.

              "Penetapan efektif mulai pada Januari 2022. Apabila ditemukan perusahaan tidak mematuhi,
              bantu kami untuk melapor. Kita akan melalukan pemeriksaan sampai dengan memberikan saksi,"
              tegasnya.

              Sementara, Ketua Koordinator Wilayah (Korwil) KSBSI Lampung, Rel Tobing, menolak rumusan
              UMP Lampung 2022 yang tidak berpihak buruh. Ia bahkan menyatakan buruh seperti sudah
              dianggap bukan warga negara Indonesia karena selalu diberikan upah murah. Ia mengatakan,
              seharusnya  Menteri  Tenaga  Kerja  menetapkan  UMP  mengacu  pada  Konvensi  Organisasi
              Perburuhan Internasional.

              "Dewan pengupahan juga seharusnya memikirkan keperluan buruh dan keluarganya. Selama ini
              UMP dihitung berdasarkan upah buruh per tahun dan buruh lajang," sesal Rel Robing.

              Berikut tujuh tuntutan KSBSI Korwil Lampung: 1. Turunkan Menteri Tenaga Kerja 2. Kabulkan
              judicial review KSBSI atas UU Nomor 11 2020 Cipta Kerja 3. Keluarkan klaster tenaga kerja dari
              UU 11/2020 4. Kembalikan klaster tenaga kerja ke ranah tripartit 5. Menuntut mencabut PP
              36/2021  tentang  Pengupahan  6.  Menolak  upah  murah  7.  Menolak  outsourcing  dan  kontrak
              diperluas/perpanjang. (*)



























                                                           471
   467   468   469   470   471   472   473   474   475   476   477