Page 642 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 NOVEMBER 2021
P. 642

Ringkasan

              Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil menegaskan, pemerintah daerah selama ini telah
              mengikuti rumus perhitungan upah dari pemerintah pusat. Hal ini tentunya harus dipahami oleh
              semua pihak. Hal tersebut, diungkapkan Ridwan Kamil saat dimintai tanggapan tentang ancaman
              mogok nasional buruh, serta 11 kabupaten/kota di Jabar yang UMK Tahun 2022 tak akan naik.



              EMIL SEBUT RUMUS PERHITUNGAN UMK JABAR MENGIKUTI PUSAT
              Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil menegaskan, pemerintah daerah selama ini telah
              mengikuti rumus perhitungan upah dari pemerintah pusat. Hal ini tentunya harus dipahami oleh
              semua pihak.

              Hal  tersebut,  diungkapkan  Ridwan  Kamil  saat  dimintai  tanggapan  tentang  ancaman  mogok
              nasional buruh, serta 11 kabupaten/kota di Jabar yang UMK Tahun 2022 tak akan naik.

              "Situasi ekonomi juga masih belum membaik 100 persen juga," ujar Ridwan Kamil yang akrab
              disapa Emil, Rabu (24/11).

              Emil menjelaskan, terkait adanya 11 kabupaten/kota di Jabar yang UMK Tahun 2022 tak akan
              naik, hal tersebut telah disesuaikan dengan aturan yang ada (PP Nomor 36 Tahun 2021 tentang
              Pengupahan).  "Karena  hitungan  yang  baru  memberikan  batasan,  ada  batas  atas  dan  batas
              bawah. Dan peraturannya mengatur kalau setelah dihitung rumusnya melewati batas atas maka
              dia sama seperti tahun sebelumnya," katanya.

              Emil  pun  mengimbau  buruh  untuk  mengedepankan  dialog  terkait  dinamika  penetapan  upah
              minimum provinsi (UMP) atau upah minimum kabupaten/kota di wilayah Jawa Barat Tahun 2022.
              "Kita sampaikan aspirasi-aspirasi kalau kurang puas bisa disampaikan dengan cara yang baik,
              cara-cara dialog. Sehingga kedepannya bisa menemukan rumus-rumus yang saling memahami
              dan menguntungkan begitu," katanya.

              Terpisah, Ekonom dari Universitas Padjadjaran, Ferry Hadiyanto mengatakan, sebaiknya buruh
              lebih bijak dalam meminta kenaikan upah minimum. Karena, saat ini sektor industri tengah masih
              dalam fase memulihkan diri akibat hantaman pandemi Covid-19.

              "Kalau  misalnya  terlalu  tinggi,  perusahaan  kalau  dapat  keuntungan  yang  tadinya  bisa  untuk
              investasi di 2022, sehingga kemudian merekrut kembali tenaga kerja yang tadinya menganggur
              atau tenaga kerja baru, tapi kalau begini kan uang profitnya hanya untuk tambahan upah," ujar
              Ferry.

              Ferry  mencontohkan,  kalau  naiknya  misal  Rp  100  ribu  saja,  maka  Rp  100  ribu  dikali  sekian
              pekerja, itu akan menghabiskan keuntungan yang sebenarnya bisa digunakan untuk investasi
              sumber daya manusia atau barang produksi untuk 2022. Ferry mengatakan, sah-sah saja jika
              buruh menyalurkan aspirasi mereka terkait kenaikan UMP dan UMK.

              "Kita saat ini lagi recovery dari pandemi Covid-19, banyak saudara yang terkena PHK gara-gara
              Covid-19.  Kalau  seandainya  nanti  ekonomi  sudah  baik  dan  normal  kembali,  dan  tingkat
              kesejahteraan masyarakat sudah normal kembali, itu sah saja," katanya.

              Ferry melihat sejumlah serikat buruh menuntut kenaikan upah karena melihat laju pertumbuhan
              ekonomi yang menunjukkan tren positif. Misalnya, ekonomi di Jabar pada triwulan II/2021 secara
              year on year (yoy) tumbuh melejit 6,13 persen, sedangkan secara kumulatif hingga triwulan
              II/2021 tumbuh 2,54 persen.


                                                           641
   637   638   639   640   641   642   643   644   645   646   647