Page 133 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 Mei 2019
P. 133
dia, massa dipukuli secara membabi buta satu per satu. Tak hanya berhenti di sana,
massa aksi yang berlari juga terus dikejar.
"Kemudian tiba di Cafe Victoria, Jalan Dipatiukur, sebagian massa aksi kembali
ditangkap, dibuka pakaiannya dan dipukuli oleh aparat kepolisian," ujar Willy.
Willy mengatakan, seluruh massa aksi yang ditangkap dibawa di kantor Polrestabes
Bandung. Di sana, kata dia, mereka kembali ditelanjangi, disuruh jalan jongkok satu
demi satu, dan dicukur habis rambutnya. Total massa aksi yang diamankan
sebanyak 619 orang. Terdiri dari, dewasa sejumlah 326 orang dan di bawah 18
tahun 293 orang. Total pria yang ditangkap berjumlah 605 orang dan perempuan 14
orang.
"Kemudian sekitar pukul 20.00 WIB massa aksi laki-laki diangkut semua ke Mako
Brimob, Jatinangor, Sumedang. Sementara yang perempuan tetap tinggal di
Polrestabes Bandung," kata Willy.
Tindakan aparat keamanan itu disebut bertentangan dengan Undang-Undang Dasar
1945, terutama Pasal 28 tentang Hak Asasi Manusia, Undang-Undang Nomor 39
tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2005
tentang Pengesahan Konvenan Internasional tentang Hak Sipil Politik.
Selanjutnya, bertentangan dengan Peraturan Kapolri Nomor 7 Tahun 2012 Tentang
Tata Cara Penyelenggaraan Pelayanan, Pengamanan dan Penanganan Penyampaian
Pendapat di Muka Umum. Selain itu, penganiayaan dan menghalang-halangi tugas
jurnalis telah melanggar Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999.
Atas kekerasan itu, Willy dari Koalisi serta LBH Bandung, Gerakan Rakyat Anti
Kapitalis, AJI Bandung, Konfederasi Serikat Nasional, F Sebumi-KASBI, Komite Aksi
Mahasiswa UIN Bandung, Pembebasan Bandung, Trimurti.id, Kolektif Angin Malam
dan Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung menuntut beberapa hal.
Pertama, menolak segala bentuk kekerasan dalam bentuk apa pun yang
bertentangan dengan nilai-nilai HAM. Kedua, menuntut aparat kepolisian untuk
segera melepaskan massa aksi. Ketiga, menuntut permintaan maaf aparat
keamanan kepada massa aksi yang ditangkap secara sewenang-wenang dan kepada
keluarga mereka.
Kelima, meminta Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Bandung dicopot sebagai
pertanggungjawaban atas tindakan kekerasan tersebut. Keenam, mengecam
keterlibatan TNI dalam urusan masyarakat sipil. Terakhir, mengecam kekerasan
aparat kepolisan terhadap jurnalis.
Adapun Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Barat
Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, anggota polisi yang
menganiaya dua jurnalis foto bernama Iqbal Kusumadireza (Rezza) dan Prima Mulia
saat ini sedang diselidiki oleh Divisi Profesi dan Pengamanan Polretabes Bandung.
Page 132 of 169.

