Page 37 - Hujan bulan Juni Pilihan sajak by Sapardi Djoko Damono
P. 37
KUHENTIKAN HUJAN
kuhentikan hujan. Kini matahari
merindukanku, mengangkat kabut pagi pelahan –
ada yang berdenyut
dalam diriku:
menembus tanah basah,
dendam yang dihamilkan hujan
dan cahaya matahari.
Tak bisa kutolak matahari
memaksaku menciptakan bunga-bunga.
1980
BENIH
“Cintaku padamu, Adinda,” kata Rama, “adalah laut yang pernah bertahun memisahkan kita,
adalah langit yang senantiasa memayungi kita, adalah kawanan kera yang di gua
Kiskenda. Tetapi….” Sita yang hamil itu tetap diam sejak semula, “kau telah tinggal
dalam sangkar raja angkara itu bertahun-tahun lamanya, kau telah tidur di ranjangnya,
kau bukan lagi rahasia baginya.”
Sita yang hamil itu tetap diam; pesona. “Tetapi Raksasa itu ayahandamu sendiri, benih yang
menjadikanmu, apakah ia juga yang membenihimu, apakah….”Sita yang hamil itu
tetap diam, mencoba menafsirkan kehendak para dewa.
1981
DI TANGAN ANAK-ANAK
Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad
yang tak takluk kepada gelombang, menjelma burung
yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan;
di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.
“Tuan, jangan kau ganggu permainanku ini”
1981
Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 37