Page 41 - AHASLA.indd
P. 41

bermanfaat secara spiritual.
           4.  Ketertarikan seksual terhadap sesama jenis kelamin
              disebut homoseksual. Ada beberapa komunitas yang
              berhubungan dengan kaum homoseks: lesbian (tertarik
              kepada sesama wanita), gay (tertarik kepada sesama
              pria), dan biseks (tertarik kepada kedua gender).
              Rentang ini memberikan model konseptual tentang
              orientasi seksual dalam masyarakat dan kompleksitas
              perilaku manusia. Dalam literatur Pali, paṇḍaka sering
              diterjemahkan sebagai homoseks, tetapi sesungguhnya
              berbeda.  Dengan penekanan pada psikologi dan
                       47
              hukum sebab akibat, Buddhisme menilai semua
              perbuatan, termasuk perbuatan seksual, berdasarkan
              niat di baliknya dan akibat yang ditimbulkannya. Suatu
              perbuatan seksual yang dimotivasi oleh cinta kasih,
              kebersamaan, dan keinginan untuk berbagi, akan
              dinilai sebagai positif, tanpa memandang jenis kelamin
              dari kedua orang yang terlibat. Meskipun seringkali
              berbenturan dengan ketatnya peraturan adat dan
              hukum sebuah negara, homoseksualitas belum tentu
              dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermoral. Jika
              kaum homoseks dapat menghindari tindakan asusila,
              serta memiliki tata susila yang baik, tidak ada alasan
              bahwa mereka tidak dapat berlatih dengan tulus dan
              menikmati semua berkah dari kehidupan.
           5.  Ketidaksamaan identitas gender seseorang terhadap
              jenis kelamin yang dimilikinya disebut transgender.
              Teks Pali menyebutkan beberapa jenis transgender:


           47  Vin 1.86

           AṬṬHASĪLA                                           31
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46