Page 7 - MUHAMMAD TRI LAKSONO_2000008040_Kelas A
P. 7
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sejak Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on
Biological Diversity/CBD) disahkan pada pertemuan internasional
mengenai lingkungan di Rio de jainero, Brazil, pada tahun 1992,
banyak pikiran yang berkembang dan semakin menyadari bahwa
keanekaragaman hayati adalah pusat dari semua sektor yang penting
bagi kehidupan manusia. Karena menganggap keanekaragaman hayati
juga sangat penting bagi bangsa Indonesia, maka Pemerintah Indonesia
meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati pada tahun 1994
melalui Undang-undang Nomor 5 tahun 1994. (Elizabeth A. Widjaja,
Ibnu Maryanto, Daisy Wowor, 2016)
Keanekaragaman hayati dapat diterjemahkan sebagai semua
makluk yang hidup di bumi, termasuk semua jenis tumbuhan, binatang,
dan mikrob. Jenis-jenis di dalam keanekaragaman hayati saling
berhubungan dan membutuhkan satu dengan yang lainnya untuk
tumbuh dan berkembang sehingga membentuk suatu sistem kehidupan.
Para ilmuwan sepakat mengelompokkan keanekaragaman hayati
menjadi tiga kategori, yaitu keanekaragaman ekosistem, jenis, dan
genetika. Keanekaragaman hayati merupakan komponen penting
dalam keberlangsungan bumi dan isinya, termasuk eksistensi manusia.
1

