Page 40 - E-MODUL RECODE ISU-ISU LINGKUNGAN
P. 40

B. Pemanasan Global di Kajang: Dampak dan Adaptasi Masyarakat

                 Adat

                    Pemanasan  global  terjadi  akibat  aktivitas  manusia  yang  menghasilkan  gas  buangan  seperti
            karbondioksida  (CO2),  nitrogen  oksida  (NO3),  sulfur  oksida  (SO4)  dan  metana  (CH4).  Gas  buangan  ini
            dihasilkan  dari  berbagai  aktivitas  terutama  pembakaran  bahan  bakar  fosil  dan  industri.  Gas  gas  ini

            terakumulasi  di  atmosfer  yang  menyebabkan  energi  matahari  terperangkap  di  bumi  dan  tidak  dapat
            dipantulkan ke luar angkasa lagi. Akibatnya suhu bumi akan meningkat.













                                              Gambar 2.2 Kawasan Hutan Adat

                    Dampak pemanasan global di Kajang terlihat jelas dalam perubahan pola cuaca yang semakin tidak
            menentu.  Musim  kemarau  yang  lebih  panjang  dan  ekstrem  telah  menyebabkan  kekeringan  yang
            mempengaruhi pertanian, sumber utama penghidupan masyarakat setempat. Tanaman pangan tradisional
            seperti  padi  ladang  dan  jagung  mengalami  penurunan  hasil,  memaksa  petani  untuk  beradaptasi  dengan
            kondisi  baru  ini.  Di  sisi  lain,  ketika  musim  hujan  tiba,  intensitas  curah  hujan  yang  lebih  tinggi  sering

            menyebabkan banjir bandang yang merusak lahan pertanian dan infrastruktur.
                    Hutan adat Kajang, yang selama ini menjadi paru-paru wilayah dan sumber daya alam yang
            penting  bagi  masyarakat,  juga  terkena  dampak  pemanasan  global.  Perubahan  suhu  dan

            kelembaban  telah  mempengaruhi  ekosistem  hutan,  mengancam  keberadaan  beberapa  spesies
            tanaman dan hewan endemik. Hal ini tidak hanya berdampak pada keseimbangan ekologis tetapi
            juga  pada  praktik-praktik  adat  dan  pengobatan  tradisional  yang  sangat  bergantung  pada

            keanekaragaman hayati hutan.
                    Masyarakat adat yang masih tetap eksis, telah memelihara local wisdom menjadi bagian
            yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dasar bagi solusi terhadap

            permasalahan  yang  terjadi  di  masyarakatnya.  Salah  satu  masyarakat  yang  tetap  eksis  adalah
            masyarakat Adat Ammatoa. Masyarakat Adat Ammatoa  dengan  kearifan lokalnya dikenal dengan
            Pasang yaitu payung hukum adat tentang pelesstarian hutan. Masyarakat Adat Ammatoa dalam

            mengelola  sumber  daya  hutan  tidak  terlepas  dari  kepercayaannya  terhadap  ajaran  pasang.
            Masyarakat Adat Ammatoa  memahami  bahwa dunia yang diciptakan oleh Turiek Arakna beserta





       Isu-isu Lingkungan Kelas IX   Semester II                                                                  30
   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45