Page 14 - 98855bf4aa7463a970fabd03f0cd2c5a3553cf96
P. 14

Banyak orang menyamakan dana darurat dengan tabungan. Faktanya,
    kedua hal tersebut sangatlah berbeda. Dana darurat disiapkan untuk
    menghadapi keadaan genting di masa depan. Cara menghitung dana
    darurat tergantung oleh penghasilan serta beban yang harus dihadapi
                                  seseorang.

     Sebagai contoh, jika kamu belum menikah, secara ideal kamu harus
    menyiapkan dana darurat untuk bisa menutup pengeluaran selama 4
                          sampai 12 bulan kedepan.

    Misalkan penghasilan kamu adalah Rp 8 Juta dengan pengeluaran per
   bulan sebesar Rp 4 Juta. Maka dana darurat yang bisa kamu persiapkan
      adalah Rp 16 Juta sampai Rp 96 Juta. Artinya, minimal kamu punya
                       saldo sebesar Rp 16 juta di ATM.

      Besarnya dana tersebut berbeda jika kamu sudah menikah. Untuk
    kasus sudah menikah, kamu wajib menyediakan dana darurat sebesar
                     6 sampai 12 bulan dari pengeluaran.

   Jika kamu punya penghasilan Rp 8 Juta dengan pengeluaran sebesar Rp
   4 Juta per bulan, maka dana darurat kamu adalah Rp 48 Juta sampai Rp
   96 juta bulan. Artinya kamu harus punya dana likuid sebesar Rp 48 Juta.

   Meskipun begitu, jika hitungan tersebut dirasa terlalu berat, maka kamu
    bisa mulai menyisihkan 10% dari penghasilan setiap bulannya. Setelah
         itu target 10% bisa terpenuhi, di bulan selanjutnya kamu bisa
            menyisihkan dana sebesar 20% sampai 30% per bulan.

       Pada dasarnya, tidak ada patokan baku dari berapa jumlah dana
         darurat yang harus kita siapkan karena setiap orang memiliki
       kebutuhan yang berbeda-beda dan kondisi yang muncul di masa
               mendatang pun sering kali sulit untuk diprediksi.

     Karena itu, kita tetap harus menambah persediaan dana darurat kita
    seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan dana kita dari waktu
                                   ke waktu
   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19