Page 428 - 100 Cerita Rakyat Nusantara
P. 428

Bijak menghormati permintaan Ratu. Dia pun tak jadi
             menyerang Binaut.
                 Meski semakin hari ketamakan dan kekejaman Binaut

             semakin menjadi, Bijak tak berbuat apa-apa.
                 Sampai suatu hari, terjadilah bencana itu.
                 Sebuah gunung meletus dengan dahsyat. Lahar panasnya
             mengalir deras ke arah istana. Raja Binaut berusaha
             melarikan diri. Namun aneh, ke mana pun dia berlari, lahar

             panas itu selalu mengejarnya.
                 Akhirnya, Binaut tak tertolong. Lahar panas menjalari
             dirinya. Sebelum terbawa arus lahar, Binaut sempat meminta

             ampun pada ibu dan saudara-saudaranya.
                 “Ampuni aku, Bu. Juga pada kakak dan adikku, dan semua
             rakyatku. Maafkan aku,” teriaknya. Teriakannya menghilang
             ditelan lahar panas yang terus mengalir.
                 Tubuh Binaut yang terbawa lahar pun terdampar di sebuah

             tanjung. Konon, sampai sekarang masih terdengar suara
             tangisan seseorang dari tanjung tersebut. Karena itu, tanjung
             tersebut dinamakan Tanjung Menangis.




                                                                                       425
   423   424   425   426   427   428   429   430   431   432   433