Page 431 - 100 Cerita Rakyat Nusantara
P. 431

Suatu hari, Kepala Dusun Lisawa
                              menyampaikan kabar duka itu padanya.
             “Suamimu tenggelam, kapalnya terhempas badai,” kabarnya

          dengan raut wajah sedih.
             Majojaru tersentak, dia amat sedih.
             Berhari-hari dia menangis di bawah pohon beringin sambil
            mengenang suaminya.

                   Anehnya, air matanya mengalir tak terbendung.
                  Alirannya semakin deras seperti sungai yang meluber.
                      Lama-kelamaan, air mata Majojaru menenggelamkan
                  pohon beringin dan sekitarnya. Tubuh Majojaru pun ikut

                  menghilang seiring dengan meluapnya air matanya.
                     Luapan air mata itu membentuk sebuah telaga kecil.
           Airnya bening dan berwarna biru seperti warna bola mata
            Majojaru.

               Penduduk Desa Lisawa pun ikut bersedih. Mereka yakin,
           Majojaru telah menyusul suaminya. Sejak saat itu, daerah
             itu mereka namakan Telaga Biru. Penduduk berjanji untuk
                                                              merawat telaga itu

                                                              baik-baik.









       428
   426   427   428   429   430   431   432   433   434   435   436