Page 88 - Stabilitas Edisi 219 Tahun 2025
P. 88
KOLOM
Syarif Fadilah
Pemimpin Redaksi Majalah STABILITAS
Bencana
usim hujan selalu datang anatomi duka hanya dalam dua menit
dengan kenangan. Tapi pengambilan gambar.
Mtahun ini, ia datang dengan Di tengah bau lumpur, kita mencium
sesuatu yang lebih dekat kepada luka. Di sesuatu yang lain: aroma pencitraan.
Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat— Narasi “penanganan bencana” berubah
nama-nama yang biasanya membawa menjadi timeline media sosial. Bukan
bayangan laut, kopi, bukit, dan lagi usaha memulihkan kehidupan,
sejarah panjang—air bah turun melainkan permainan visual yang
dari langit dan naik dari sungai, diunggah pada jam-jam strategis.
seakan ingin mengingatkan bahwa Di saat relawan menggotong korban,
sebuah “musim” kadang adalah sebuah beberapa pejabat menggotong tripod.
babak baru dalam kesedihan. syarat menjaga keseimbangan Ada juga pejabat yang bicara dengan
Musim penghujan tahun ini mungkin alam diabaikan. Kita, sadar atau nada menggurui—di depan mikrofon yang
akan jadi musim yang paling diingat oleh tidak, telah memproduksi risiko tampak lebih penting daripada korban
sebagian Masyarakat Aceh, Sumatra dan ketika risiko itu menjemput, di sekelilingnya. Dengan wajah yang tak
Utara dan Sumatra Barat. Musim hujan kita terkejut lalu berdoa. Padahal tahu malu, mereka mengingatkan bahwa
kali ini telah menciptakan bencana doa terbaik sudah disediakan setiap donasi harus izin pemerintah
banjir bandang dan tanah longsor yang alam sejak awal dalam wujud dan akan diaudit. Seakan-akan ketika
melanda ketiga provinsi tersebut pada pohon, akar, hutan, kesuburan bencana datang, yang paling berbahaya
akhir November hingga setidaknya awal tanah, dan sistem siklus air yang bukan arus deras sungai, tetapi aliran
Desember tahun ini. tertata. dana dari warga yang ingin menolong.
Bencana itu bukanlah sebuah Kekhawatiran pemerintah bukan pada
kebetulan alam semata. Menurut pakar, Konten nyawa yang hilang, tapi pada aliran uang
ini adalah puncak dari pola kerusakan Ada lagi yang lebih yang mungkin tidak lewat meja mereka.
ekosistem hulu selama puluhan tahun. menggelikan. Ketika bencana Ucapan itu sekaligus menyinggung
Ketika hutan yang mampu menahan mulai mereda, mobil-mobil rakyat biasa yang peduli atau
air dan menahan tanah digantikan oleh dinas datang, para pejabat turun relawan yang bergerak cepat, yang
hamparan perkebunan, tambang, atau ke Lokasi, kamera menyala. tidak menunggu instruksi, yang
kawasan industri maka sungai dan bukit Namun mereka datang bukan mengumpulkan bantuan di halaman
kehilangan perisai ekologisnya. Saat hujan dengan langkah terburu-buru masjid atau dalam kardus toko kecil.
datang, bukit kehilangan daya tahan dan untuk menolong, melainkan Mereka tidak minta izin karena waktu
tanah mencari gravitasi. dengan ritme yang pas untuk tidak pernah memberi izin.
Oleh karena itu cukup menggelikan kebutuhan konten. Ada yang Tapi pejabat berkata lain: semua
jika musibah ini hanya semata diangap berdiri dengan gaya tertentu, ada harus “tertib administrasi”. Sepertinya
sebagai hukuman Tuhan, dan menolak yang memangul beras seolah siap di tengah rumah dan korban manusia
melihat aktor manusia di baliknya. Kita berbagi beban dengan rakyat, ada yang hanyut, yang ditertibkan justru
membiarkan narasi bahwa alam “marah,” yang menunjuk ke arah sungai solidaritas.
sehingga kita melepaskan tanggung jawab. sambil menggerakkan tangan Dan ada satu hal lagi yang tak
Tetapi jika kita jujur kepada diri seperti presenter cuaca, ada yang pernah benar-benar dijawab: mengapa
sendiri, bencana ini adalah warisan membetulkan topinya sebelum pemerintah begitu enggan menetapkan
dari kebijakan serampangan. Lahannya memeriksa posko. Sesekali status bencana nasional? Jadi mana
dipakai, hutannya ditebang, daerah aliran mereka mengangguk, seperti yang lebih penting: nyawa rakyat atau
sungai dilecehkan, perizinan dibagi, tetapi sudah memahami seluruh anggaran negara? *
88 Edisi 219 / 2025 / Th.XXI www.stabilitas.id

