Page 456 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 456

‘sertipikasi’. Peraturan ini memiliki keterbatasan dalam hal pembuktian hak
             yang diwujudkan dalam bentuk tertulis yang ada sebelumnya, dan bentuk
             pengakuan berupa sertipikasi dalam bentuk privat atau badan hukum.
             Tanah hutan adat dan masyarakat-hukum adat sebagai penyandang hak
             yang dimaksud dan diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi tentu sangat
             berbeda dengan yang dimaksudkan oleh peraturan-peraturan dari BPN
             di atas. Di dalam masyarakat-hukum adat terdapat hak-hak individual
             maupun hak-hak komunal. Persoalan komunalitas atas tanah inilah yang
             belum mendapat tempat dalam sistem pendaftaran tanah di lembaga BPN
             RI.
                   Oleh sebab itu diperlukan bentuk pendaftaran tanah yang akan
             dilakukan oleh BPN RI untuk mengakui dan melindungi hak-hak atas
             tanah masyarakat-hukum adat atas wilayah (hutan) ulayatnya. Beberapa
             gagasan yang telah muncul dalam mengusulkan pengakuan hak-hak atas
                                            7
             tanah komunal diantaranya adalah : (1) memberikan hak atas tanah dengan
             sifat individual melalui wujud sertipikat, atau pengesahan sistem ‘semi
             formal’ bukti pemilikan masyarakat; (2) memberikan Hak Kelola, Izin
             Kelola, atau Perjanjian Penggunaan Tanah; (3) memberikan kepemilikan
             kolektif atau Hak pakai atas tanah kepada masyarakat adat; (4) memberi
             pengakuan hak ulayat (beschikkingrecht). Menyadari bahwa sistem
             pengakuan dalam hukum Indonesia ternyata penuh dengan rintangan,
             maka berbagai pilihan di atas memiliki kelebihan dan kekurangan. Selain
             itu adalah hanya dikenal bentuk ‘legalisasi’ hak atas tanah masyarakat oleh
             negara yang diwujudkan dalam bentuk ‘pengakuan’ dan ‘pemberian’ yang
             keduanya masih bersifat kabur dihadapkan pada beragam konsep hak atas
                             8
             tanah masyarakat .








                   7 Berbagai gagasan ini dimuat dalam, Adriaan Bedner dan Ward Berenschot (ed.) Masa
             DepanHak-Hak Komunal atas Tanah: Beberapa Gagasan untuk Pengakuan Hukum, Rekomendasi
             Kebijakan. Van Vollenhoven Institute, Universitas Leiden dan BAPPENAS, 2010, lihat hlm. 5-8
                   8 Myrna Safitri, “Legalisasi Hak-Hak Masyarakat atas Tanah dan Kekayaan Alam dalam
             Peraturan Perundang-undangan Nasional Indonesia: Model, Masalah dan Rekomendasi”, dalam
             Adriaan Bedner dan Ward Berenschot (ed.) Masa DepanHak-Hak Komunal atas Tanah: Beberapa
             Gagasan untuk Pengakuan Hukum, Rekomendasi Kebijakan. Van Vollenhoven Institute, Universitas
             Leiden dan BAPPENAS, 2010, hlm. 15-16.


                Pengakuan dan Perlindungan Hak Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat...  425
   451   452   453   454   455   456   457   458   459   460   461