Page 455 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 455

negara yang dinyatakan secara sepihak bernafaskan “domain verklaring”
            dalam kenyataannya masih diikuti oleh Kementerian Kehutanan. Padahal
            penguasaan secara sepihak atas tanah adat dengan sistem semacam inilah
            justru yang telah dinyatakan sebagai melanggar konstitusi oleh Mahkamah
            Konstitusi melalui Putusan MK 35 tersebut. Peraturan tersebut mempersulit
            masyarakat adat untuk mendapatkan hak konstitusional atas wilayah
            mereka. Singkatnya, peraturan tersebut bertentangan dengan semangat
            yang ada dalam Putusan MK 35 .
                                          5
                 Adapun respon Badan Pertanahan Nasional  RI yang sementara
            ini ada didasarkan pada Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN
            Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat
            Masyarakat Hukum Adat. Intinya adalah pada keberadaan masyarakat
            hukum adat, yang menurut Permen ini ditetapkan dengan peraturan
            daerah. Beberapa pasal Permen Agraria tahun 1999 ini masih senafas dengan
            UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, yakni tentang pengakuan
            eksistensi masyarakat hukum adat, tanah dan wilayah ulayat, tatanan
            hukum adat dan kelembagaannya dengan syarat-syarat tertentu yang sulit
            dipenuhi oleh masyarakat adat .
                                        6
                 Selain hal itu, terdapat beberapa langkah lanjutan yang perlu
            disikapi oleh BPN RI. Tanah hutan adat yang telah dikeluarkan dari
            hutan negara memerlukan pengakuan dan perlindungan hukum serta
            pendaftarannya. Sebagai pelaksanaan dari ketentuan Pasal 19 UUPA
            terdapat Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran
            Tanah dan Peraturan Menteri negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan
            Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan
            Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Jika
            mengikuti mekanisme dan prosedur peraturan di atas, maka tanah adat atau
            yang didefiniskan sebagai tanah ulayat dapat didaftarkan dalam kegiatan
            ‘pendaftaran tanah pertama kali’ harus melalui ‘pembuktian hak’ dan


                 5 Yance Arizona, “Dibutuhkan Pengakuan Hukum Terintegrasi: Kajian Hukum Penerapan
            Putusan MK Nomor 35/PUU-X/2012 terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Malinau Nomor
            10 Tahun 2012 tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat di Kabupaten
            Malinau”, dalam Wacana edisi 33, tahun XVI, 2014, hlm. 143–165.
                 6 Kajian kritis mengenai Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 5 Tahun 1999
            ini lihat, Siti Rachma Mary, Y. Arizona, dan N. Firmansyah, “Kajian Kritis atas Peraturan Menteri
            Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian
            Permasalahan Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat.” Kertas Kerja Epistema Institute No.01/2012.
            Jakarta: Epistema Institute.


            424      Hubungan Keagrariaan
   450   451   452   453   454   455   456   457   458   459   460