Page 232 - Buku Ajar Praktikum Biokimia 2 Edisi 2
P. 232

Sabun adalah jenis zat pembersih yang memiliki kemampuan untuk menurunkan
tegangan permukaan karena kandungan surfaktannya yang rendah. Sabun dibuat dengan
cara mereaksikan minyak nabati atau hewani dengan natrium hidroksida atau kalium
hidroksida. Komponen utama dalam sabun adalah agen pengemulsi yang umumnya
digunakan dalam produk pembersih. Sabun mengandung ion positif seperti Na+ atau K+
dan ion negatif yang berasal dari asam karboksilat rantai panjang. Asam karboksilat ini
dihasilkan melalui proses hidrolisis minyak nabati atau hewani (Narkhede, 2010).
Secara kimiawi, reaksi saponifikasi mengubah trigliserida (lemak atau minyak)
menjadi senyawa yang lebih sederhana, yakni gliserol dan garam asam lemak. Proses ini
menghasilkan sabun yang memiliki sifat emulsifikasi dan menurunkan tegangan
permukaan, berguna dalam proses pembersihan. Pemakaian minyak kelapa, terutama dalam
sabun aromaterapi, telah menjadi opsi yang diminati karena kualitasnya yang konsisten dan
telah lulus uji standar, sehingga unggul dalam industri kosmetik dan perawatan kulit. Sabun
memiliki struktur kimia dengan rantai karbon C12 sampai C16; sifatnya amfipatik dengan
kepala hidrofilik (polar) dan ekor hidrofobik (nonpolar), yang memungkinkannya menarik
molekul lemak dan kotoran untuk larut dalam air (Nurhadi, 2012).
Sabun memiliki sifat yang memungkinkannya larut dalam air dengan tingkat
kelarutan yang tinggi, walaupun tidak dalam bentuk partikel kecil secara fisik, melainkan
sebagai ion yang larut. Sebagai surfaktan, sabun dapat membentuk struktur micelle di dalam
larutan. Di sini, bagian dari molekul sabun yang bersifat hidrofobik akan berkumpul di inti
micelle, sementara bagian hidrofiliknya akan terpapar di luar. Proses ini memungkinkan
mikelle untuk menangkap lemak dan kotoran dari permukaan, yang kemudian dapat
diangkat oleh air. Hal ini menjadikan sabun sebagai agen pembersih yang sangat efektif
dan juga ramah lingkungan dalam aplikasi perawatan kulit dan kebersihan. Menurut
penelitian Desiyanto dan Djannah (2013), sabun secara mekanis mampu menghilangkan
kotoran dan debu dari kulit, serta secara signifikan mengurangi jumlah mikroorganisme
yang berpotensi menyebabkan penyakit dan virus. Oleh karena itu, penggunaan sabun tidak
hanya terbatas pada membersihkan secara mekanis, tetapi juga dalam mengurangi risiko
penularan penyakit melalui kulit manusia.
227





































































   230   231   232   233   234