Page 314 - Buku Ajar Praktikum Biokimia 2 Edisi 2
P. 314
BAB 21
UJI BAHAN PENGAWET MAKANAN: BORAK DAN FORMALIN
Mahasiswa direncanakan mampu bertanggungjawab atas pekerjaan di
bidang keahliannya secara mandiri (CPMK6), sementara kemampuan akhir yang
diharapkan pada percobaan ini adalah mahasiswa mampu menerapkan eksperimen
uji bahan pengawet makanan (Sub-CPMK 8). Pengalaman pembelajaran yang
diperoleh meliputi melaksanakan praktikum, merencanakan, mengamati,
menganalisis, mengelaborasi, membuat, dan mengirimkan laporan melalui di
aplikasi yang telah tersedia.
a. Orientasi
Bahan tambahan pangan, seperti pengawet, memiliki peran yang sangat
penting sejalan dengan perkembangan teknologi produksi bahan tambahan pangan
sintetis. Umumnya, pengawet biasa digunakan dalam mempertahankan kualitas
makanan yang rentan rusak. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan, beberapa jenis
pengawet seperti formalin dan asam borat dilarang digunakan dalam produk
pangan. Penggunaan formalin, yang biasanya digunakan sebagai pengawet mayat
dan dalam penelitian hewan, dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius jika
disalahgunakan. Kebijakan pemerintah yang ketat mencerminkan potensi bahaya
yang terkait dengan senyawa ini, seperti iritasi pernapasan, kulit melepuh, serta
gejala seperti mual, muntah, diare, dan sakit kepala. Paparan formalin dan asam
borat dalam jangka panjang juga dapat mengakibatkan kerusakan pada organ-
organ tubuh seperti hati, jantung, otak, serta mutasi genetik yang berpotensi
menyebabkan kanker. Formalin memiliki beragam aplikasi, tidak hanya sebagai
agen desinfektan dan antiseptik, tetapi juga sebagai bahan baku dalam industri
untuk memproduksi lem kayu lapis, resin, dan tekstil. Di sisi lain, asam borat atau
boraks, yang umumnya digunakan sebagai pembersih, fungisida, herbisida, dan
insektisida dalam kehidupan sehari-hari, memiliki efek toksik bagi manusia
309