Page 57 - fikih kls 9
P. 57

“Dari Samurah, Nabi Muhammad Saw.  bersabda : tanggung jawab barang yang diambil atas
                       yang mengambil sampai dikembalikannya barang itu. ” (H.R. al-Khomsah kecuali An Nasai)

                    d.  Peminjam harus mengembalikan pinjamannya sesuai waktu yang telah di sepakati

                    e.  Apabila peminjam dalam waktu yang sudah disepakati belum dapat mengembalikan, maka
                       harus memberitahukan dan meminta ijin kepada yang meminjamkan.

                    f.  Hendaknya Orang yang meminjami memberi kelonggaran waktu kepada peminjam, apabila
                       peminjam melebihi batas waktu yang telah ditentukan.


                 B.  Utang Piutang


                 Utang piutang adalah salah satu bentuk kerjasama atau tolong menolong dalam kehidupan manusia.
                 Dalam pembahasan sebelumnya, Ananda telah mempelajari tentang pinjam meminjam.

                 Antara pinjam meminjam dengan utang piutang objeknya sama yaitu dapat berupa barang atau uang,
                 perbedaanya adalah, kalau kegiatan pinjam meminjam harus mengembalikan barang pinjaman pada
                 batas waktu yang telah ditentukan.  Sedangkan dalam kegiatan utang piutang jika utang tersebut
                 dalam  bentuk  pembelian  barang,  maka  dapat  menjadi milik  pribadi  (penghutang)  secara  penuh,
                 apabila hutang telah lunas, misalnya hutang mobil, rumah atau barang lainya.


                 Dalam  pembahasan  utang  piutang, Ananda  akan  mendapatkan  penjelasan  hukum  utang  piutang,
                 ketentuan utang piutang, dan Praktik utang piutang dalam Lembaga Keuangan Syariah (Bank Umum
                 Syariah atau BPR syariah, Koperasi Syariah dan BMT)


                 1.  Hukum utang piutang

                    Hukum utang piutang pada asalnya adalah mubah atau boleh, namun bisa berubah menjadi sunah,
                    wajib, atau  haram  tergantung dari latar  belakang  alasan  yang mendasarinya.  Lebih  lanjut
                    penjelasanya sebagai berikut :


                    a.  Mubah atau boleh, sebagaimana hukum asal dari utang piutang
                    b.  Sunah, apabila  orang yang berhutang dalam keadaan terpaksa. Misalnya, utang makanan
                       pokok demi untuk memberi makan keluarganya

                    c.  Wajib, apabila pemberi hutang mendapati orang yang sangat membutuhkan bantuan, misalnya
                       member hutangan kepada orang yang membutuhkan untuk operasi demi kesembuhan dari
                       suatu penyakit, sementara yang berhutang tidak ada yang menolong

                    d.  Haram, apabila orang yang memberi hutang mengetahui penggunaan utang untuk hal-hal yang
                       dilarang agama, misalnya utang untuk membeli minum minuman keras, judi atau lainya.


                    Dasar hukum yang digunakan dalam  al-Qur’an surat al-Maidah ayat 2 dan hadits Nabi Muhammad
                    Saw., di bawah ini :

                                                                                                            51
                                                                                          Fikih - Kelas IX





       fikih siswa kls 9__revisi.indd   51                                                                        6/16/16   5:31 PM
   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62