Page 59 - fikih kls 9
P. 59

saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu
                       menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian
                       itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada
                       tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muaamalah itu
                       perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika)
                       kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis
                       dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya
                       hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu;
                       dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu”

                    b.  Pemberi hutang tidak boleh mengambil keuntungan atau manfaat dari orang yang berhutang.
                       Kaidah fikih berbunyi:
                                                                                          َ ً ْ       َ      َ ُّ ُ
                                                                                          ز
                                                                                              َ َ
                                                                                     َ َ ُ
                                                                                                    َّ
                                                                                                            ْ
                                                                                     ب �ر و� ةعفنم  رج ضرق ك
                                                                                                         ٍ
                                                                                      ِ
                        “Setiap hutang piutang yang mendatangkan manfaat (bagi pemberi hutang), maka hukumnya
                       riba”.
                    c.  Berhutang dengan niat baik dan akan melunasinya
                       Hal ini sebagaimana hadits berikut ini:
                             َ   َ  َ  َ  َ    َ َ                          َّ   َ                  َ   ُ   َ  ْ َ
                                         ْ َ
                               َ ْ
                                                                                               ز
                                                                                                     َ ْ َ
                                                                          ِّ
                            لاومأ ذخأ نم : لاق  مسو هيلع هلا ىص  �نلا نع  هنع هلا �ر  ة�ره �أ نع
                                                                                                     ي
                                                                           ب
                                                                                                           ب
                                                                                ِ
                                                                                                           ِ
                                                                           ِ
                                                                                             َ
                                                                                                    َ
                                                    َ َ
                                               ُ  َّ  ُ ْ  َ  َ  ز َ َ ْ ُ  ُ  َ  َ  َ  ْ َ َ  ُ ْ َ ُ  َّ  َّ َ َ ُ  ُ  َّ
                                                                                                 َ
                             ) يراخبلا هاور(هلا هفلتأ ا�اتإ دي� ذخأ نمو  هنع هلا ىدأ اهءادأ دي� سانلا
                                                                                                         ي
                                                                   ي
                                                              ِ
                                                                                                        ِ ِ
                                                                  ِ
                       Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Nabi Muhammad Saw.  bersabda: “Barangsiapa
                       yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya
                       (mengembalikannya),  maka  Allah  Swt.  akan  tunaikan  untuknya.  Dan barangsiapa
                       mengambilnya  untuk  menghabiskannya  (tidak  melunasinya),  maka  Allah  Swt.  akan
                       membinasakannya”. (HR. Bukhari)
                    d.  Tidak berhutang kecuali dalam keadaan darurat atau mendesak.
                       Maksudnya kondisi yang tidak mungkin lagi baginya mencari jalan selain berhutang sementara
                       keadaan sangat mendesak, jika tidak akan kelaparan atau sakit yang mengantarkannya kepada
                       kematian, atau semisalnya.
                    e.  Jika terjadi keterlambatan  karena kesulitan keuangan, hendaklah orang yang berhutang
                       memberitahukan  kepada  orang  yang  memberikan  pinjaman.  Hal  ini  termasuk  bagian  dari
                       menunaikan hak pemberi hutang.
                    f.  Bersegera melunasi hutang
                       Orang yang berhutang hendaknya ia berusaha melunasi hutangnya sesegera mungkin apabila
                       ia telah memiliki kemampuan untuk mengembalikan hutangnya. Sebab orang yang menunda-
                       menunda pelunasan hutang padahal ia telah mampu, maka ia tergolong orang yang berbuat
                       zhalim. Sebagaimana hadits berikut:

                                                                                                            53
                                                                                          Fikih - Kelas IX





       fikih siswa kls 9__revisi.indd   53                                                                        6/16/16   5:31 PM
   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64