Page 389 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 389
Toponim Kota Yogyakarta 371
Perang Jawa berkobar, wilayah ini menjadi saksi bisu perlawanan pasukan Pangeran
Diponegoro melawan pasukan Belanda, sebagaimana yang dikisahkan oleh Suradikrama,
seorang Lurah Carik Kabupaten Pamajêg dalam penggalan pangkur di Punika Sêrat
Babad Ingkang Sinuhun Kaping Gangsal Kaping Nêm Saha Kramanipun Dipanagaran, 1861
(1930: 51-52) berikut ini:
29. surak sru kadya ampuhan | kulon kali kalawan wetan kali | campuh ing prang
sami purun | Dipati Danurêja | mijil wetan Tompeyan laju angêbyuk | Dyan Mayor
Wiranagara | sangking loji Bulu nuli ||
30. mangsah manapung ing yuda | katadhahan sami suraning jurit | sêrêg-sinêrêg
akukuk | nandukakên warastra | campuh rukêt sanjata atri gumuruh | sanadyan
karoban lawan | wong Têgalrêja tan miris ||
31. para wira kasultanan | sami balik kang wus prajanji nguni | mariyêm lir gunung
guntur | mêngsah amaju tiga | kang sapangkat mêngsah nêmpuh sangking kidul |
tuwin sangking ing Tompeyan | sangking ing Bulu bêdhili ||
Terkait toponimi kampung, menurut tradisi lisan penduduk asli Kampung Tompeyan,
pada zaman dahulu di daerah ini terdapat tempayan yang sangat besar. Tempayan
tersebut terbuat dari tanah liat, perutnya besar, dan mulutnya kecil. Di dalam kamus
Bausastra Jawa (Poerwadarminta,1939), têmpayan memiliki arti yang sama dengan
pangaron (kuwali gêdhe dianggo ngaru lsp. atau kuali besar untuk mengaduk dan menyiram
air ke beras yang ditanak dan sebagainya) dan gênthong (wadhah banyu gêdhe atau tempat
air yang besar). Oleh orang-orang, tanah di sekitar tempayan ini dipercaya subur
sehingga kemudian banyak yang pindah dan menetap disini dari generasi-ke generasi.
Seiring dengan berlalunya waktu, tempayan tersebut rusak dan akhirnya musnah tanpa
meninggalkan jejak.
Kampung Tompeyan memang selalu identik dengan kesuburan tanahnya. Kini, ia
menjadi kampung ekowisata sekaligus tempat edukasi bagi wisatawan yang ingin belajar
tentang pengelolaan lingkungan dan pertanian sayur. Spanduk bertuliskan “Selamat
Datang di Kampung Toga dan Sayuran. Tompeyan, Tegalrejo” menghiasi gerbang masuk
kampung. Sejak tahun 2017, pemukiman padat penduduk dengan gang-gangnya yang
sempit ini berubah menjadi lebih hijau dan asri dengan aneka tumbuhan hijau, baik
sayur maupun buah yang siap untuk dikonsumsi, yang ditanam di pot-pot, polybag,
dan botol-botol bekas tak terpakai. Lebih dari separuh penduduknya memiliki kebun
pribadi di pekarangan rumahnya. Di samping itu, setidaknya terdapat lima kebun sayur

