Page 8 - Materi Al-Qur'an XII
P. 8
Aktifitas 3
• Sebelum Anda menyimpulkan isi kandungan ayat, bacalah khazanah di bawah ini, kemudian
tulislah isi kandungan Q.S. Ali Imran (3): 159 pada lembar kerja
• Presentasikan hasil kesimpulan Anda di hadapan kelas
Asbabun Nuzul
Ibnu Abas ra. menjelaskan bahwa setelah terjadi perang Badr, Rasulullah mengadakan
musyawarah dengan Abu Bakr ra. dan Umar Ibn Khatthab ra. untuk meminta pendapat
mereka tentang para tawanan perang Badr. Abu Bakar ra. berpendapat bahwa sebaiknya
dikembalikan kepada keluarganya dengan membayar tebusan. Namun Umar ra.
berpendapat bahwa mereka sebaiknya dibunuh dan yang membunuh adalah
keluarganya. Rasulullah saw. kesulitan dalam memutuskan, kemudian turunlah ayat ini
(QS Ali Imran: 159) sebagai dukungan atas pendapat Abu Bakr ra.
Isi Kandungan Ayat
1. Rasulullah saw adalah manusia yang selalu bertutur kata santun, lemah lembut dan
menyenangkan kepada siapapun yang bergaul dengannya, baik kawan ataupun lawan,
baik dalam keadaan genting atapun tenang. Sikap Rasul ini semata-mata hanya karena
bimbingan dan rahmat Allah yang diberikan Allah kepada-Nya.
2. Sikap keras dan kasar kepada pihak lain tidak akan mengatasi masalah, justru akan
menambah masalah dan membuat masyarakat menjauh dan antipati. Dengan demikian,
masalah tidak teratasi dan proses dakwah pun terhambat.
3. Rasulullah diperintahkan untuk melakukan musyawarah dalam mengatasi berbagai
persoalan yang dihadapi dengan sahabat-sahabatnya yang kompeten (cerdas dan
berakal, lapang dada, pengalaman, perhatian dan taqwa).
4. materi musyawarah adalah hal-hal yang terjangkau oleh nalar (akal ) manusia dan selalu
mengalami perubahan seperti masalah rumah tangga, pendidikan, renovasi bangunan
dll. Sedangkan hal-hal yang berada di luar jangkauan akal manusia seperti surga dan
neraka- dan hal-hal yang tidak mengalami perubahan -seperti ketentuan mahram,
ibadah mahdhah- harus berdasarkan Al-qur’an dan Al –Hadits.
5. Sikap-sikap yang harus dijaga dan di kedepankan dalam melakukan musyawarah, yaitu
lemah lembut, memberi maaf, memohon ampun kepada Allah atas semua keputusan
yang dibuatnya, serta bertekad untuk melaksanakan dan menyerahkan diri kepada Allah
atas usaha dalam melaksanakan hasil musyawarah.
6. Perintah bersikap lemah lembut dalam musyawarah bertujuan untuk menjaga
kebersamaan dan kekeluargaan. Sikap tersebut diwujudkan dalam bentuk menghindari
tutur kata yang kasar, menghindari sikap keras kepala dan menghargai pendapat orang
lain.
7. Sikap mental untuk selalu bersedia memberi maaf akan memunculkan sikap lapang dada.
Lapang dada akan menumbuhkan hati tenang dan pikiran jernih. Hati tenang
menyebabkan akal dapat memikirkan hal-hal yang brilian. Hal-hal brilian biasanya datang
sekejap dan tidak diundang kedatangannya. Demikian juga kepergiannya. Indera keenam
(pikiran brilian) hanya muncul pada orang-orang yang tidak berbuat aniaya, fasik,
pendusta, pengkhianat dan melampaui batas
8. Sikap memohon ampunan Allah dalam musyawarah untuk membangun kesadaran
bahwa keputusan yang diambil dalam musyawarah, meskipun ditetapkan secara
aklamasi, pasti terdapat kekurangan dan kesalahan. Produk manusia tidak ada yang

