Page 17 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 5 MARET 2021
P. 17

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan Dinas
              Tenaga Kerja dan ESDM Bali Hi Arya Dhyana berencana menyiapkan pelatihan tenaga kerja di
              luar sektor pariwisata menyusul banyaknya masyarakat yang beralih kerja ke sektor pertanian.

              Menurutnya,  penambahan  jumlah  tenaga  kerja  di  sektor  pertanian  tidak  serta-merta
              menunjukkan peningkatan jumlah petani. Selama ini, pekerja di Bali dinilai hanya menjadikan
              sektor pertanian sebagai usaha sampingan. Pandemi yang terjadi sejak tahun lalu mendorong
              pekerja beralih dan menjadikan sektor pertanian sebagai pekerjaaan utama.

              "Sebab kalau dibilang ada peningkatan ke pertanian, logikanya tentu harus ada penambahan
              lahan pertanian," katanya.

              Dengan pola distribusi sektor kerja di Bali yang mengalami perubahan, dia berencana membuat
              pelatihan atau peningkatan kompetensi kerja selain sektor pariwisata. Selama ini, Balai Latihan
              Kerja (BLK) di Bali memiliki tugas untuk memberikan peningkatan kompetisi khusus di sektor
              pariwisata.
              "Ke depannya, tentu harus ada variasi atau minimal upaya untuk menumbuhkan kemampuan
              jiwa inovasi dalam berbisnis ataupun berwirausaha," sebutnya.

              PAD BADUNG

              Sementara itu, Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa membeberkan Pendapatan Asli Derah (PAD)
              Badung Provinsi Bali turun drastis akibat matinya dunia pariwisata. Oleh karena itu, dia meminta
              pemerintah pusat membayar gaji aparatur sipil negara (ASN) melalui penambahan Dana Alokasi
              Umum (DAU) sesuai dengan kebutuhan ASN di Badung.

              Setiap tahun Pemkab Badung menganggarkan Rp717 miliar untuk gaji ASN dengan skema Rp300
              miliar dari DAU pusat dan Rp417 miliar dari PAD Badung.
              "Sebenarnya  penggajian  ASN  itu  kewajiban  dari  pemerintah  pusat,  tetapi  selama  ini  karena
              Badung bisa sebagai daerah mandiri maka kami menganggarkan gaji ASN dari PAD, tetapi karena
              pandemi PAD kami turun drastis, sehingga kami memohon untuk kebijakan pusat," jelasnya.

              Pemkab Badung telah mengajukan DAU untuk gaji ASN tetapi belum mendapat jawaban dari
              pusat. Bila gaji ASN bisa ditangani oleh pemerintah pusat, APBD Badung bisa digunakan untuk
              program yang lebih produktif seperti program sosial maupun pembangunan fisik.

              "Sebenarnya kami tidak ada masalah jika gaji ASN dibayarkan dari PAD, tetapi program kami
              lainnya akan tertunda karena dengan pemasukan yang sedikit kami harus pilih yang prioritas.
              Jadi implikasinya ke program sosial dan pembangunan fisik yang kami tunda," ungkapnya.

              Sebelum Covid-19, Badung memiliki PAD yang tinggi. Pada 2019, APBD Badung tercatat Rp7,78
              triliun dan merupakan kabupaten dengan APBD tertinggi se-Bali. Dari APBD tersebut PAD Badung
              sejumlah Rp6,7 triliun.

              "Sekitar 80% PAD kami dari pajak hotel dan restauran," kata Suiasa.

              Setelah Pandemi Covid-19 menutup industri pariwisata Badung, PAD Badung pada 2020 menjadi
              Rp5,3 triliun dari APBD perubahan tahun 2020 sejumlah Rp6,3 triliun. Terjadi penurunan PAD
              sejumlah Rpl triliun. Bahkan, pada 2021, APBD Badung ditarget dalam Rencana Anggaran dan
              Pendapatan Daerah (Ranperda) hanya Rp3,8 triliun, rwajs






                                                           16
   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21   22