Page 78 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 78
Selama sepekan ke belakang para unsur pedagang kaki lima di beberapa daerah melakukan aksi
pengibaran bendera putih. Mulai dari Cirebon, Yogyakarta, hingga Bandung.
Di Cirebon misalnya, pengibaran bendera putih itu sebagai simbol menyerah dan pasrahnya PKL
terhadap kondisi saat ini. Tak sedikit PKL menutup jualannya lantaran terdampak kebijakan
PPKM. Seperti yang terjadi di pusat jajanan atau shelter Alun-alun Kejaksaan Kota Cirebon.
Hanya segelintir PKL yang masih berjualan.
"Semuanya ada 42 lapak (PKL). Tapi sekarang cuma tinggal tujuh atau delapan pedagang yang
masih berjualan. Banyak berhenti mulai PPKM, sebelum PPKM aktif semua," kata Koordinator
PKL Shelter Alun-alun Kejaksaan Joko Santoso saat berbincang dengan detikcom, Jumat
(30/7/2021).
3. Pengusaha Restoran-Kafe
Sejumlah kafe dan restoran di Kota Bandung berencana kibarkan bendera putih. Pasalnya,
pandemi COVID-19 hingga PPKM yang terus diperpanjang membuat sektor usaha tersebut
terpuruk.
"Pandemi COVID-19 yang berlangsung hingga 17 bulan ini benar-benar telah meluluh lantahkan
sektor usaha Kafe dan Restoran. Berbagai upaya telah dilakukan untuk bisa bertahan namun
apadaya satu persatu bahkan sudah puluhan usaha kafe dan restoran di Jawa Barat sudah tutup
dengan kerugian yang begitu besar-besar," ujar Ketua Harian Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR)
Bandung Gan Bondillie dalam keterangan resminya yang diterima detikcom pada Rabu
(28/7/2021).
Gan mengatakan keterpurukan kafe dan restoran ini menyusul aturan dalam Perwal PPKM
darurat yang mana kafe dan restoran masih belum diperbolehkan buka dan hanya melayani take
away. Sedangkan dalam Peraturan di daerah, pedagang kaki lima atau warteg masih boleh meski
ada pembatasan waktu selama 20 menit.
4. Pengusaha Pariwisata
Sejumlah tempat wisata di Mojokerto serentak mengibarkan bendera putih. Aksi ini dilakukan
untuk mengetuk pintu pemerintah, terutama Presiden Joko Widodo, atas keadaan sulit yang
mereka alami saat diterapkannya PPKM.
Koordinator Masyarakat Pariwisata dan ekonomi kreatif (Masparekraf) Mojokerto, Wiwit Haryono
mengatakan para pengelola ekonomi kreatif merasa terseok-seok dalam menyambung hidup.
Bagaimana tidak, saat ladang mereka mencari rezeki ditutup, mereka juga tak mendapatkan
bantuan dari pemerintah.
"Ini sudah di titik memprihatinkan, kami mencoba untuk mengetuk hati para pejabat negeri.
Awalnya karena adanya dampak penutupan akibat PPKM. Nah menurut kami semakin nggak
jelas, habis ada tahap pertama, kelanjutan, perpanjangan dan sebagainya. Itu pun tidak ada
kepastian kapan bisa bekerja lagi," kata pria yang akrab disapa Sarko kepada detikcom, Selasa
(27/7/2021).
"Sedangkan kami, yang tergabung dalam masyarakat pariwisata dan ekonomi kreatif Mojokerto
ini yang core bisnis intinya di pariwisata. Di situ ada UMKM, ada pedagang kaki lima, ada tenaga
kerja di lingkup pariwisata dan sebagainya, ini kan macet total," imbuhnya.
77

