Page 90 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 90
Ia mengatakan, sejumlah TKW yang bermasalah tersebut merupakan pekerja migran yang
diberangkatkan secara unporsedural. Namun meski demikian, pemerintah daerah akan berusaha
melindungi dan berupaya untuk memulangkan TKW yang bermasalah itu.
"Kendati dalam proses penanganannya butuh waktu ya, karena kan dokumen mereka tidak
terdata di Dinas maupun di KBRI negara penempatan. Namun, semoga saja dalam proses
penanganannya bisa cepat. Kami terus koordinasi dengan pihak-pihak terkait,” ucapnya.
Ricky menambahkan, masyarakat yang akan bekerja ke luar negeri untuk senantiasa menempuh
jalur resmi atau prosedural melalui pihak dinas terkait. Dengan berlakunya Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 2017, perusahaan yang akan memberangkatkan harus merekrut calon pekerja
migran yang sudah terdaftar di Dinas.
“Masyarakat diminta untuk lebih teliti lagi, dengan pemberangkatan jalur yang legal atau resmi.
Sehingga apabila terjadi permasalahan tidak menjadi kendala untuk kedepannya." jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, seorang TKW AA (38) asal Kampung Pasir Randu, Desa Cisarandi,
Kecamatan Warungkondang, diduga menjadi korban kekerasan di Arab Saudi.
Kabar tersebut baru diketahui setelah adanya unggahan seorang warganet di grup Facebook TKI
Saudi Arabia, dengan nama akun Oktivia Sami. "Yg dari cianjur ada yg knal ngga dengan mbak
ini kasiahan dia visa jiahara di jual sana sini ...smpe tnganya rusak dia kerja di algasim ga boleh
pegang hp ...," tulis Oktivia Sami dalam akun Facebook.
Sebelumnya, Disnakertrans Kabupaten Cianjur, menyebutkan berdasarkan informasi terakhir AA
(38) TKW yang diduga menjadi korban kekerasan tersebut saat ini sedang dalam penanganan
petugas KBRI.
"Selama juga saya mendapatkan telepon dari pihak KBRI, majikan tempat AA bekerja sudah
dihubungi, dan keberadaanya pun sudah diketahui. Informasi yang diperoleh AA berada di Kota
Al - Qasim, atau berjarak sekitar 400 kilomter dari kantor KBRI. Namun hingga saat ini pihak
KBRI belum dapat menemui korban," katanya.
89

