Page 580 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 AGUSTUS 2020
P. 580
Padahal, jumlah pekerja informal masih mendominasi pekerjaan di Indonesia. Pada Februari
2019, tercatat penduduk yang berusia 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor informal sebanyak
74 juta jiwa. Sementara penduduk yang bekerja di sektor formal hanya 55,3 juta jiwa.
Dukungan pemerintah dapat menjadi jalan keluar pekerja sektor informal beralih menjadi pelaku
usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal ini diperlukan untuk meningkatkan produktivitas
pelaku UMKM.
Pertumbuhan produktivitas sektor informal yang diikuti dengan membesarnya skala usaha
diharapkan dapat menjadi upaya untuk menyerap tenaga kerja yang tidak terserap kembali oleh
perusahaan pascapandemi COVID-19.
Wajah muram ketenagajerjaan Indonesia nampak setelah terjadi peningkatan pengangguran di
tahun ini. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencana Pembangunan
Nasional (Bappenas) Suharso Manoarfa sebelumnya menyebut total jumlah pengangguran di
Indonesia sudah mencapai 10,7 juta orang karena terdampak Covid-19.
Pascapandemi, SMERU menyebut sektor teknologi bakal menyumbang lapangan pekerjaan
dengan jumlah tinggi. Potensi ini tumbuh karena teknologi memungkinkan proses ekonomi terus
berjalan meski tanpa adanya kontak fisik antar manusia.
Dengan kata lain, tenaga kerja dengan keterampilan teknologi tinggi punya peluang lebih
menyongsong lapangan pekerjaan di era setelah pandemi. Di sisi lain, program kartu prakerja
yang diluncurkan pemerintah justru tidak mendorong calon pekerja ke industri unggulan.
Mengesampingkan anggaran dana kartu prakerja, pemerintah tidak memetakan secara detail
industri yang diharapkan menjadi sasaran pelatihan. Alih-alih mendapatkan pelatihan di sektor
industri potensial, peserta kartu prakerja justru berbondong-bondong melirik pelatihan di sektor
informal.
Salah satunya adalah pelatihan ojek daring atau online yang diminati 15.735 peserta pelatihan
pada gelombang I April 2020. Kenyataan ini, menurut riset dari Univeritas Gadjah Mada,
berpotensi terjadi deskilling dan skill trap atau keterbatasan keterampilan yang berimplikasi
pada pelemahan posisi pekerja di kalangan pekerja muda.
Pasalnya, pekerja informal seperti pengemudi ojek online minim mendapatkan peningkatan karir,
keterampilan, dan pendapatan. Penelitian yang dilakukan di DKI Jakarta, Yogyakarta, dan
Banyuwangi pada 2019 ini menyebut, penyerapan pekerja dalam jumlah masif belum tentu baik
secara ekonomi dan sosial.
Penyumbang bahan: Muhamad Arfan Septiawan (magang).
579

