Page 671 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 APRIL 2021
P. 671

KABAR GEMBIRA!!! KEMENAKER PASTIKAN PEKERJA KONTRAK DAN
              OUTSOURCING DAPAT THR PENUH TAHUN INI
              Jakarta  -  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemenaker)  memastikan  pekerja  dengan  status
              outsourcing  (alih  daya),  kontrak  Perjanjian  Kerja  Waktu  Tertentu/PKWT)  atau  pekerja  tetap
              (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu/PKWTT) berhak menerima Tunjangan Hari Raya (THR)
              Idul Fitri tahun 2021.

              Pembayaran  THR  tersebut  sesuai  Surat  Edaran  (SE)  Nomor  M/6/HK.04/IV/2021  tentang
              Pelaksanaan Pemberian THR Keagamaan Tahun 2021 bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan. Pada
              prinsipnya,  aturan  tersebut  mewajibkan  pengusaha  memberi  THR  secara  penuh  kepada
              pekerja/buruhnya pada H-7 Lebaran.

              "THR Keagamaan wajib diberikan dalam bentuk uang rupiah dan paling lambat 7 hari sebelum
              hari raya keagamaan," kata Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga
              Kerja  (PHI  dan  Jamsos)  Kemenaker,  Indah  Anggoro  Putri  dalam  keterangan  resminya  yang
              dikutip, Senin (26/4/2021).

              Dia  juga  menjelaskan  bahwa  ada  tiga  jenis  pekerja/buruh  yang  berhak  memperoleh  THR.
              Pertama,  pekerja/buruh  berdasarkan  PKWT  atau  PKWTT  yang  memiliki  masa  kerja  1  bulan
              secara menerus atau lebih.
              Kedua, pekerja/buruh berdasarkan PKWTT yang mengalami PHK oleh pengusaha terhitung sejak
              H-30 hari sebelum hari raya keagamaan. Ketiga, pekerja/buruh yang dipindahkan ke perusahaan
              lain dengan masa kerja berlanjut, apabila dari perusahaan lama belum mendapatkan THR.

              "THR wajib dibayar penuh dan tepat waktu. Dalam pembayaran THR tidak ada perbedaan status
              kerja. Para pekerja outsourcing maupun pekerja kontrak, asalkan telah bekerja selama 1 bulan
              atau lebih dan masih memiliki hubungan kerja pada saat hari keagamaan berlangsung, maka
              berhak mendapatkan THR juga," ujarnya.
              Ketentuan besarnya THR berdasarkan peraturan adalah 1 bulan upah untuk pekerja/buruh yang
              mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus-menerus atau lebih. Sedangkan pekerja/buruh
              yang masa kerjanya 1 bulan secara terus-menerus sampai dengan kurang dari 12 bulan, berhak
              mendapat THR yang dihitung secara proporsional sesuai masa kerjanya.
              Penghitungan upah sebulan yakni upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih (clean
              wages); atau upah pokok termasuk tunjangan tetap. Dalam hal upah terdiri dari upah pokok dan
              tunjangan tidak tetap, maka perhitungan THR dihitung berdasarkan upah pokok.

              "Dari  perhitungan  upah  tersebut,  tidak  menutup  kemungkinan  perusahaan  juga  dapat
              memberikan  THR yang nilainya  lebih  besar dari  peraturan perundang-undangan,  dimana  hal
              tersebut  terlebih  dahulu  ditetapkan  dalam  perjanjian  kerja,  peraturan  perusahaan  atau
              perjanjian  kerja  bersama  atau  kebiasaan  yang  selama  ini  memang  telah  dilakukan  oleh
              perusahaan," lanjutnya.

              Sedangkan pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian, upah satu bulan
              dihitung melalui dua ketentuan. Yakni memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih (rata-rata upah
              yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya) dan masa kerja kurang dari 12 bulan
              (rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja).








                                                           670
   666   667   668   669   670   671   672   673   674   675   676