Page 299 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 APRIL 2021
P. 299

Menurut  Presiden  KSPI  Said  Iqbal,  massa  buruh  dari  KSPI  yang  akan  mengikuti  May  Day
              sekurang-kurangnya  berjumlah  50  ribu  buruh yang  akan  turun  ke  jalan  dengan  tetap  patuh
              protokol kesehatan dan juga secara virtual. Untuk di Jakarta, aksi unjuk rasa akan dipusatkan di
              depan Istana Negara dan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK).

              "Mereka tersebar di 3.000 perusahaan/pabrik, 200 kabupaten/kota, dan 24 provinsi. Seperti DKI
              Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Bengkulu, Riau, Kepulauan
              Riau, Aceh, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorotalo, Sulawesi
              Selatan, Maluku, dan sebagainya," kata Said Iqbal dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis
              (29/4/2021).

              "Aksi  buruh  yang  dilakukan  di  bebagai  daerah  wajib  mengikuti  protokol  kesehatan  untuk
              mencegah  penyebaran  Covid-19,  seperti  melakukan  rapid  antigen,  menggunakan  masker,
              handsanitizer, hingga menjaga jarak," lanjutnya.

              Tidak  hanya  buruh,  aksi  May  Day  juga  akan  diikuti  oleh  sejumlah  elemen  mahasiswa  dari
              berbagai kampus ternama seperti BEM ITB, UNJ, Unand, dsb. Dalam hal ini, KSPI sudah bertemu
              dan berdiskusi dengan pengurus Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI)
              dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

              "Mahasiswa dan buruh akan bergerak bersama untuk menyuarakan satu tuntutan yang sama,
              yaitu penolakan terhadap omnibus law UU Cipta Kerja," kata Said Iqbal.

              Sebagaimana diketahui, buruh sudah mengajukan uji materi dan uji formil UU Cipta Kerja ke
              Mahkamah Konstitusi. Beberapa hal yang dipermasalahkan kaum buruh dalam beleid yang baru
              ini adalah terkait dengan outsourcing dan buruh kontrak.

              Di  dalam  UU  Ketenagakerjaan,  outsourcing  ada  2  jenis  yaitu  outsourcing  pekerjaan  dan
              outsourcing pekerja. Di mana kedua jenis outsourcing tersebut hanya dilakukan untuk kegiatan
              penunjang, bukan kegiatan pokok. Outsourcing pekerja dibatasi hanya untuk 5 jenis pekerjaan.
              Namun demikian, kata Said Iqbal, di dalam UU Cipta Kerja outsourcing hanya 1 jenis, yaitu
              outsourcing pekerja. Di mana outsourcing pekerja digunakan untuk semua jenis pekerjaan, dan
              bisa digunakan untuk kegiatan pokok tidak hanya kegiatan penunjang.

              "Sehingga akan terjadi dalam satu perusahaan mayoritas adalah pekerja outsourcing (misal 95
              persen outsourcing dan 5 persen karyawan tetap. Padahal pekerja outsourcing bukan pekerja
              perusahaan tapi pekerja milik agen outsourcing yang kapan saja bisa di PHK tanpa pesangon
              dan  jaminan  sosial.  Ini  yang  dimaksud  outsourcing  seumur  hidup  karena  menjadi  pekerja
              outsourcing melalui agen penjual tenaga kerja tanpa masa depan," tegasnya.

              "Terkait dengan hal itu, buruh meminta agar outsourcing pekerja harus dibatasi untuk 5 jenis
              pekerjaan saja, agar tidak terjadi dalam satu perusahaan mayoritas pekerja outsourcing dan
              menjadi pekerja outsourcing seumur hidup karena tidak mungkin agen outsourcing mengangkat
              karyawan tetap," kata pria yang juga menjabat sebagai Pengurus Pusat (Governing Body) ILO
              itu.

              Sementara  itu,  terkait  dengan  karyawan  kontrak,  di  dalam  UU  Ketenagakerjaan  dibatasi
              maksimal hanya 3 periode kontrak dan batas maksimal waktu kontrak adalah 5 tahun.
              Dengan pembatasan periode dan batas waktu kontrak ini, setelah 5 tahun kontrak, maka setelah
              itu  buruh  dapat  diangkat  menjadi  karyawan  tetap  (PKWTT)  sepanjang  berkinerja  baik  dan
              dibutuhkan perusahaan.

              Tetapi  di  dalam  UU  Cipta  Kerja,  lanjut  Said  Iqbal,  PKWT  tidak  dibatasi  periode  dan  batas
              maksimal waktu kontraknya, sehingga pekerja dapat di kontrak pendek tanpa periode dan tidak

                                                           298
   294   295   296   297   298   299   300   301   302   303   304