Page 468 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 JULI 2021
P. 468

Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny mengatakan untuk subsidi gaji
              sejatinya lebih bersifat membantu menggantikan pendapatan yang berkurang karena efek PPKM
              darurat.

              "Jadi memang membantu [daya beli], tapi saya melihatnya kok hanya lebih menggantikan yang
              hilang saja," katanya.

              Meskipun terdapat kucuran subsidi, tetapi kinerja emiten ritel secara keseluruhan masih akan
              masih berat.

              Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan meskipun secara riil harus
              dilihat realisasinya seperti apa, menurutnya, kebijakan tersebut cukup memberikan sentimen
              positif pada pasar.

              "Kalau kita asumsikan dengan tambahan tersebut bisa meningkatkan belanja masyarakat yang
              diberikan, tentunya saham-saham ritel dan konsumen yang sekiranya bisa berdampak positif,"
              katanya.

              Reza mengatakan sejumlah emiten yang memiliki peluang untuk terdorong sentimen tersebut
              diantaranya  saham  PT  Indofood  CBP  Sukses  Makmur  Tbk.  (ICBP),  PT  Unilever  Indonesia
              Tbk.(UNVR), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk.(AMRT). Selain sektor ritel tersebut, sektor kesehatan
              juga akan cukup terdongkrak seperti PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) dan PT Kalbe Farma
              Tbk. (KLBF).

              Sebelumnya,  Direktur  MNC  Asset  Manajemen  Edwin  Sebayang  mengatakan  sejak  pandemi
              menerpa  Indonesia,  tren  pasar  saham  mulai  berubah  seiring  dengan  sentimen  yang
              berkembang.

              'Tahun lalu ramai borong farmasi, lalu sektor digital, lalu komoditas, lalu digtal lagi. Sekarang
              karena kasus Covid-19 naik lagi akhirnya balik lagi ke farmasi," kata Edwin.

              Mayoritas saham-saham sektor tersebut berasal dari kalangan emiten berkapitalisasi kecil dan
              menengah. Di sisi lain, dari sisi investor tren juga berubah yang mana investor pasar modal saat
              ini didominasi oleh ritel.

              "Pasar kita sekarang digerakkan ritel. Tapi ritel ini karakteristiknya seperti apa? Mereka sukanya
              trading, jadi sangat jangka pendek. Lagi ramai apa, mereka ikut ke sana," katanya.

              Jadi, sepanjang semester 1/2021, Edwin menilai IHSG lebih banyak digerakkan oleh saham SMC.
              Sementara  sa-ham-saham  besar  seperti  yang  tergabung  dalam  indeks  LQ45  cenderung  sepi
              peminat karena minim sentimen. Buktinya, pergerakan LQ45 jeblok sepanjang paruh pertama
              tahun ini.

              Dia juga memperkirakan kondisi yang sama masih berlanjut hingga semester kedua tahun ini,
              sepanjang tidak ada aksi korporasi atau sentimen yang menarik yang dapat menggerek daya
              tarik saham-saham tersebut.

















                                                           467
   463   464   465   466   467   468   469   470   471   472   473