Page 698 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JUNI 2021
P. 698

EKSPLOITASI ANAK: PEMILIK KLUB MALAM DI SIKKA DAPAT DIPIDANA 15 TAHUN
              PENJARA

              TERBONGKARNYA kasus eksplotasi seksual komersial di Kabupaten Sika Nusa Tenggara Timur
              (NTT)  menambah  panjang  anak  menjadi  korban  perbudakan  seksual  di  Indonesia.
              Menindaklanjuti laporan masyarakat dan kerja cepat Polda NTT, pada Senin 14 Juni lalu, berhasil
              menyelamatkan  puluhan  anak  yang  dipekerjakan  sebagai  pekerja  seksual  komersial  di  klub
              malam di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara.

              Merujuk UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang telah diubah ke dalam
              undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak, pelaku usaha kelab malam
              dan  para  konsumennya  dapat  dikenakan  tindak  pidana  eksploitasi  komersial  anak  dengan
              ancaman hukuman penjara 15 tahun.

              Arist  Merdeka  Sirait  Ketua  Komisi  Nasional  Perlindungan  Anak  dalam  keterangan  persnya,
              merespons  dan  mendukung  Polda  NTT  mengungkap  tabir  jaringan  kejahatan  seksual  dan
              perbudakan seks di NTT, Jumat 18 Juni 2001. "Para penyedia dan konsumen eksploitasi seksual
              komersial patut dikenakan pasal tindakan pidana khusus karena menyediakan tempat dan anak,
              dengan demikian para penyedia kelap malam dan konsumennya dapat dipidana," ungkapnya.
              Kabid humas Polda NTT Kombes Pol Rishnan Krisna mengatakan jajaran Subdit IV Direskrimum
              Polda NTT melakukan kegiatan operasi malam di sejumlah tempat hiburan malam di wilayah
              Kabupaten Sikka.

              "Ada empat lokasi yang menjadi target operasi, ungkap Kombes Krishna yakni Pub I, Pub S, Pub
              B dan Pub SH, Dari keempat tempat tersebut petugas berhasil mengamankan 25 anak yang
              berusia di bawah umur yang bekerja di kelab malam tersebut. Rata2 korban berusia dibawah 16
              tahun," jelas Kombes Krisna Razia kelab malam di Sika dilakukan dalam rangka penyelidikan
              terhadap tindak pidana eksploitasi seksual komersial anak pada tempat hiburan malam.

              Dipimpin oleh Panit Subdit IV Renakta Direskrimum Polda NTT AKP, Ricky Daily sebagai tindak
              lanjut adanya laporan dan informasi masyarakat bahwa pada tempat-tempat hiburan malam di
              seputaran Kota Maumere Kabupaten Sikka mempekerjakan anak di bawah umur.
              "Atas  informasi  tersebut  anggota  kami  langsung  mendatangi  pub-pub  tersebut  dan  betul
              menemukan kebenaran bahwa ada banyak anak-anak di bawah umur yang dipekerjakan. Saat
              ini kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan," terangnya.

              Dengan  terbongkarnya  kasus  eksploitasi  seksual  komersial  dan  perbudakan  seksial  anak  di
              Kabupaten  Sikka  NTT,  Komisi  Nasional  Perlindungan  Anak  memberikan  apresiasi  dan
              penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi dan kerja tepat dari jajaran Direskrimum Polda
              NTT.
              "Dengan kejadian ini, Komnas Perlindungan Anak juga mendesak Pemerintah Kabupaten Sikka
              untuk menyelamatkan anak-anak korban dari eksploitasi seksual komersial tersebut," ujar Arist
              dalam keterangan tertulisnya.

              Komnas  Perlindungan  Anak  juga  mendesak  Dinas  Sosial  kabupaten  Sikka  untuk  melakukan
              evakuasi dan rehabilitasi sosial anak korban dari eksploitasi seksual komersial tersebut. Komnas
              Perlindungan Anak sebagai lembaga dan institusi Perlindungan Anak juga mendesak P2 ATP2A
              Kabupaten  Sikka  dengan  melibatkan  para  pegiat  perlindungan  anak  khususnya  Lembaga
              Perlindungan Anak yang ada di Kabupaten Sikka untuk segera membentuk Tim Advokasi dan
              Litigasi untuk mengawal kasus di tindak pidana perdagangan orang. (H-1).

                                                           697
   693   694   695   696   697   698   699   700   701   702   703