Page 110 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 AGUSTUS 2021
P. 110
Cihaurbeuti Kabupaten Ciamis; LK (22) warga Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya;
AR (28) warga Kabupaten Sukabumi; dan SL (21) warga Kecamatan Salawu, Kabupaten
Tasikmalaya.
Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya AKP Hario Prasetyo Seno mengatakan, terungkapnya kasus
itu bermula dari laporan seorang ibu bernama Yuli (40) warga di Kecamatan Tanjungjaya, pekan
lalu. Yuli melaporkan, anaknya itu pergi dengan SL namun tak kunjung kembali ke rumah selama
sepekan. Hario tak menjelaskan detail apa yang dikatakan remaja itu kepada ibunya saat pergi
dengan SL. Berdasarkan laporan itu, Hario langsung berkoordinasi dengan Unit Perlindungan
Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tasikmalaya langsung melakukan penyelidikan.
"Ya, dari hasil penyelidikan itu, diketahui posisi anak tersebut berada di daerah Bogor. Anggota
kami pun kemudian bergerak ke lokasi itu untuk membawa pulang ," kata Hario Prasetyo Seno
kepada wartawan Rabu (11/8).
Hario tak menyebut secara spesifik lokasi Bogor mana menemukan remaja itu. Namun, kata dia,
saat berada di Bogor, petugas menemukan keberadaan bocah itu beserta SL. Selain mereka, ada
3 orang lelaki yang diduga sebagai anggota sindikat perdagangan manusia. Lebih lanjut, Hario
mengatakan saat di Bogor itu, polisi juga menemukan 6 perempuan lain yang dipekerjakan
sebagai wanita penghibur.
"Kita dalami, ternyata 4 pelaku yang ditangkap itu sindikat perdagangan orang. Masing masing
punya peran berbeda," ucap dia.
6 orang itu seluruhnya masih usia belia. Usianya berkisar 22-25 tahun. Mereka berasal dari
berbagai kota, di antaranya Cianjur, Sukabumi dan Bandung Barat. Menurut Hario, mereka
dipekerjakan sebagai wanita penghibur dengan tarif Rp. 300 ribu untuk sekali kencan. "Empat
tersangka dan 6 korban kita amankan di Polres Tasikmalaya untuk pemeriksaan lebih lanjut, para
pelaku juga dijerat dengan pasal di undang-undang tindak pidana perdagangan orang, ancaman
pidana 3-15 tahun, " kata Hario.
Hario mengatakan modus para pelaku dalam menjalankan aksinya dengan menjanjikan
pekerjaan di sebuah rumah makan kepada korban dengan iming-iming gaji besar. Orang yang
ditugaskan merekrut ini adalah SL. SL kemudian merayu remaja 14 tahun itu untuk pergi ke
Bogor. Ternyata, saat di Bogor, remaja itu dipaksa bekerja sebagai PSK.
109

