Page 351 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 APRIL 2021
P. 351

"Kami  menegaskan  juga  dalam  Pendahuluan  ini  mengajukan  mengatasnamakan  Gerakan
              Kesejahteraan Nasional sebuah aliansi masyarakat sipil yang berhubungan serikat pekerja yang
              terdiri  dari  berbagai  federasi,"  ujar  Kuasa  hukum  para  pemohon  Ari  Lazuardi  dikutip  risalah
              sidang pemeriksaan pendahuluan, Selasa (20/4).

              Namun, Ari tidak menyebutkan semua nama pemohon di depan para hakim panel dan hanya
              dianggap  dibacakan.  Nama  pemohon  yang  disebutkan  hanya  R  Abdullah  sebagai  karyawan
              swasta yang juga ketua umum Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, dan Pertambangan Serikat
              Pekerja  Seluruh  Indonesia  (FSP  KEP  SPSI)  serta  Indra  Munaswar,  seorang  karyawan  swasta
              sekaligus ketua umum Federasi Serikat Pekerja Indonesia (FSPI).


              Nama 663 pemohon ditulis dalam berkas permohonan. Para pemohon perkara nomor 4/PUU-
              XIX/2021 melalui tim kuasa hukumnya, mengajukan pengujian formil dan materiil terhadap UU
              Cipta Kerja.

              Secara  formil,  pemohon  meminta  MK  menyatakan  pembentukan  UU  Nomor  11  Tahun  2020
              tentang  Cipta  Kerja  melanggar  ketentuan  pembentukan  peraturan  perundang-undangan
              berdasarkan UUD 1945. Karena itu, tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.


              Sedangkan  secara  materiil,  pemohon  meminta  MK  menyatakan  inkonstitusional  ataupun
              inkonstusional bersyarat pada seluruh norma yang dipersoalkan. Pemohon juga meminta MK
              menyatakan sejumlah pasal dalam UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, berlaku
              dan memiliki kekuatan hukum mengikat.

              Sementara itu, Anggota Majelis Hakim Arief Hidayat mengatakan, pemohon perlu menguraikan
              legal standing atau kedudukan dari 663 pemohon maupun kerugian inkonstitusional atas adanya
              UU  Ciptaker  ini.  Ia  menyarankan  agar  pemohon  bisa  dibuat  klaster  atau  dikelompokkan
              berdasarkan kerugian inkonstitusional tersebut.

              "Bisa saja di antara 600 itu ada 20, 30, atau 40, atau bahkan 100 yang tidak punya legal standing.
              Ya, itu akan dilihat satu per satu. Kalau Anda bisa membuat klasternya itu akan memudahkan
              kita semua pada waktu melakukan pengujian," kata Arief.

              Ia  menegaskan,  penentuan  legal  standing  sangat  penting  dalam  gugatan  uji  materi  karena
              sebagai pintu masuk pengujian UU. Apabila uraian mengenai legal standing pemohon tak jelas,
              maka  Mahkamah  bisa  menyatakan  pemphon  tidak  mempunyai  legal  standing  sehingga
              Mahkamah tidak perlu membahas sampai ke pokok permohonannya.





















                                                           350
   346   347   348   349   350   351   352   353   354   355   356