Page 95 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 APRIL 2021
P. 95
akhir tahun ini. “Karena itu, ekspansi produksi tidak terlalu agresif,” kata dia, kemarin. Meskipun
peningkatan kinerja industri sudah terjadi, kata Shinta, penyediaan lapangan kerjanya tidak
terlalu besar. Menurut dia, pelaku usaha masih menyesuaikan penyerapan tenaga kerja
berdasarkan tingkat produksi. “Untuk kembali mempekerjak
PENYERAPAN TENAGA KERJA INDUSTRI MASIH RENDAH
Jutaan pekerja harus kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19. Meski sejumlah prediksi
menyebutkan pertumbuhan industri mulai pulih tahun ini, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha
Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan penyerapan tenaga kerja masih
lambat. Menurut dia, hal ini dipicu oleh pelaku usaha yang masih melihat ketidakpastian hingga
akhir tahun ini. “Karena itu, ekspansi produksi tidak terlalu agresif,” kata dia, kemarin.
Meskipun peningkatan kinerja industri sudah terjadi, kata Shinta, penyediaan lapangan kerjanya
tidak terlalu besar. Menurut dia, pelaku usaha masih menyesuaikan penyerapan tenaga kerja
berdasarkan tingkat produksi. “Untuk kembali mempekerjakan pekerja yang terkena pemutusan
hubungan kerja lebih lambat karena peningkatan kinerjanya sedikit,” kata Shinta. Pandemi
Covid-19 pun digunakan sebagian perusahaan untuk melakukan transisi ke otomatisasi.
Ketua Komite Tetap Ketenagakerjaan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Bob Azzam,
mengatakan tingkat penyerapan tenaga kerja setelah gelombang pemutusan hubungan kerja
tahun lalu bergantung pada rantai nilai industri. Ia mencontohkan industri otomotif yang sudah
mulai pulih setelah pemerintah memberikan insentif pajak. “Pulihnya industri otomotif ini bisa
berdampak pada sektor lain, seperti industri komponen yang padat karya. Mungkin mereka
sudah mulai merekrut kembali,” ujar Bob.
Bob mengatakan tinggi atau rendahnya penyerapan kembali tenaga kerja setelah gelombang
PHK tidak akan sama. Menurut dia, hal itu bergantung pada permintaan produk industri tertentu
di pasar. Merujuk pada industri otomotif, efek berganda tak hanya dirasakan oleh industri
komponen, tapi juga layanan purnajual atau bengkel, asuransi, hingga pembiayaan. “Intinya,
hal ini sangat bergantung pada penanganan pandemi Covid-19 serta efektivitas stimulus yang
diberikan pemerintah,” ujar Bob.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Rizal Tanzil Rakhman, mengatakan
kinerja industri tekstil sempat membaik pada triwulan IV. Utilisasi industri sempat mencapai 70
persen setelah terpuruk hingga 20 persen pada masa awal pandemi Covid-19 merebak. “Angka
penyerapan tenaga kerja mulai naik. Berdasarkan hitungan kasar pada akhir 2020, ada 50 persen
pekerja yang dipekerjakan kembali,” ujar Rizal.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Budiarto Tjandra, belum bisa
memastikan jumlah pekerja yang sudah dipekerjakan kembali setelah dirumahkan beberapa
waktu lalu. Sebab, kata dia, industri alas kaki yang berorientasi ekspor dan domestik memiliki
kondisi yang bertolak belakang. Industri yang sudah pulih dan mulai melakukan rekrutmen
kembali biasanya berorientasi ekspor. “Tapi perusahaan yang mengandalkan pasar domestik
masih harus didukung agar segera pulih,” ujar Budiarto.
Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, berujar
bahwa industri padat karya mendapat bantuan yang cukup banyak, misalnya insentif pajak dan
subsidi. Pertumbuhan industri padat karya juga didorong dalam perumusan Undang-Undang
Cipta Kerja agar kinerjanya bisa lebih optimal. “Tapi beberapa hal masih menjadi tantangan,
seperti peraturan turunan UU Cipta Kerja yang perlu dicarikan solusinya,” kata dia.
94

