Page 295 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JULI 2021
P. 295

DERITA KELOMPOK PINGGIRAN: TERCEKIK PPKM, SULIT DAPAT BANSOS

              Masyarakat pinggiran atau kelompok marjinal kerap kali tak tersentuh bantuan dari pemerintah
              selama masa pandemi Covid-19, terlebih pada kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan
              Masyarakat atau PPKM Darurat.

              Menurut Trade Union Right Center (TURC) saat ini masih banyak pekerja rumahan yang tidak
              mendapat bantuan sosial padahal mereka sangat terdampak kebijakan PPKM Darurat.

              "Terdapat kesulitan-kesulitan untuk mendapatkan program bantuan sosial dari pemerintah. Di
              mana sekitar 40 persen dari responden kita waktu mengumpulkan data itu belum mendapatkan
              bantuan  sosial,"  kata  relawan  TURC,  Indri  M.  dalam  konferensi  pers  secara  daring,  Minggu
              (18/7).


              Menurutnya, kebanyakan dari pekerja rumahan tak mendapat akses meski sudah mengajukan
              ke pemerintah. Beragam alasan mereka dapatkan.

              Misalnya, mulai dari tidak mendapat informasi soal bansos, tidak terdaftar secara resmi, banyak
              yang mengajukan tidak mendapatkan akses, hingga tak termasuk dalam kriteria yang dituju oleh
              pemerintah.

              "Lalu tidak masuk daftar prioritas. Jadi ada macam-macam di sini," tambahnya.

              Padahal, kata Indri, pekerja rumahan merupakan sektor yang sangat terdampak selama masa
              pandemi saat ini. Mayoritas mengalami kemerosotan pendapatan.

              Dia mengatakan hampir 96 persen lebih data yang dikumpulkan oleh TURC menyatakan bahwa
              pendapatan pekerja rumahan menurun drastis imbas PPKM Darurat.

              Oleh sebab itu, dia beranggapan bahwa kelompok ini seharusnya mendapat akses seluas-luasnya
              terdapat bantuan sosial dari pemerintah.

              "Paling banyak Rp500 ribu-Rp 1 juta. Ini menyedihkan, karena hampir semua penghasilan utama
              dari ibu-ibu ini adalah untuk keluarganya," ucapnya.


              Hal senada juga diungkapkan oleh Pegiat di Yayasan Peduli Sindroma Down Indonesia (YAPESDI)
              Dewi Tjarawinata. Menurutnya, seringkali bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah sulit
              diakses oleh masyarakat disabilitas.

              Menurutnya, disabilitas seringkali sulit lolos dalam kriteria pemberian bansos oleh pemerintah.
              Padahal, kata dia, mereka banyak yang masuk sektor pekerja informal.

              "Mereka banyak yang kerja di sektor informal. Menjadi tukang pijat, jualan kerupuk keliling,
              membantu usaha keluarga sebagai penjaga toko, tukang angkut batu, pelayanan di tempat yang
              tidak terdaftar. Mereka jelas tidak terdaftar sebagai peserta Jamsostek Ketenagakerjaan," ucap
              Dewi.

              Sehingga, kata dia, situasi pandemi saat ini membuat mereka tak mendapat bantuan langsung
              tunai  (BLT).  Belum  lagi,  terdapat  situasi  di  mana  mayoritas  penyandang  disabilitas  hidup
              menumpang bersama keluarganya. Mereka pun tak terdaftar untuk mendapat bantuan-bantuan
              dimaksud.

              Dewi menilai sistem penerima bantuan iuran (PBI) selama ini masih bias. Bukan berdasarkan
              pendapatan, tapi berdasarkan apa yang mereka miliki.

              "Omong kosong bantuan-bantuan sosial, bantuan sosial itu tidak tepat sasaran. Jadi yang miskin
              tetap dikebelakangkan," tambah dia.

                                                           294
   290   291   292   293   294   295   296   297   298   299   300