Page 838 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 APRIL 2021
P. 838

Dibawah terik yang panas, seorang pria terlihat merangkak di aspal Jalan Pahlawan Semarang
              menuju  pintu  gerbang  Kantor  Gubernur  Jawa  Tengah  untuk  menuntut  keadilan,  Senin
              (12/4/2021) siang. Dia adalah Ahmad Zainuddin, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Federasi Serikat
              Pekerja Kimia, Energi, Pertambangan, Minyak, Gas Bumi dan Umum (FSP KEP) Jawa Tengah.



              BURUH DEMO MERANGKAK KE GUBERNURAN, DESAK THR TAK DICICIL

              SEMARANG - Dibawah terik yang panas, seorang pria terlihat merangkak di aspal Jalan Pahlawan
              Semarang menuju pintu gerbang Kantor Gubernur Jawa Tengah untuk menuntut keadilan, Senin
              (12/4/2021) siang. Dia adalah Ahmad Zainuddin, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Federasi Serikat
              Pekerja Kimia, Energi, Pertambangan, Minyak, Gas Bumi dan Umum (FSP KEP) Jawa Tengah.

              Aktivis buruh itu bersama puluhan buruh lain melakukan aksi untuk mendesak pemerintah agar
              tidak  main-main  dengan  menindas  kaum  lemah  seperti  buruh  melalui  kebijakan  ngawur.
              Contohnya  adalah  kebijakan  pemerintah  dengan  memperbolehkan  pengusaha  mencicil
              Tunjangan Hari Raya (THR) pada tahun 2020 lalu dengan dalih pandemi Covid-19.

              Munculnya kebijakan tersebut justru dijadikan dalih oleh banyak pengusaha nakal untuk tidak
              memberikan  THR  secara  penuh  kepada  karyawannya.  "Ingat!  Pada  2020  lalu,  pemerintah
              mengeluarkan surat edaran (SE) bahwa THR boleh dicicil oleh perusahaan kepada karyawannya.
              Fakta yang terjadi, setelah dicicil, data Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) tercatat ada
              10 ribu karyawan (secara nasional) tidak mendapatkan THR penuh. Di Jawa Tengah, kurang
              lebih 3 ribu karyawan tidak mendapatkan THR penuh," beber salah satu juru bicara buruh, Aulia
              Hakim.

              Maka dari itu, pihaknya mendesak THR pada lebaran 2021 untuk dibayar penuh. Buruh menolak
              apabila THR dicicil. "Apakah kawan-kawan mau kalau THR dicicil?" Serentak, massa menjawab
              "Tidaaak!.
              "Saya mohon kepada pemerintah, jangan main-main kepada pihak yang lemah. Kalau pun dari
              kawan lain menolak bahwa perusahaan tidak mampu, kami paham itu. Sejak masa pandemi,
              resesi ekonomi memang berdampak kepada sejumlah perusahaan. Tetapi ingat, tidak semua
              perusahaan  terdampak.  Pemerintah  jangan  malah  membuat  sebuah  peraturan  melalui  surat
              edaran  apapun  yang  justru  membuka  peluang  kepada  para  pengusaha  melanggar  Undang-
              Undang Ketenagakerjaan," tegasnya.

              Selain itu, alasan tidak mau THR dicicil adalah, ketika terjadi resesi ekonomi seperti yang terjadi
              saat ini, seharusnya pemerintah menaikkan daya beli masyarakat. "Maka THR harus dibayar
              penuh agar daya beli masyarakat meningkat. Sehingga resesi ekonomi bisa bangkit," tegasnya.

              Buruh juga terus menggelorakan penolakan Omnibus Law Cipta Kerja. Sebab, Omnibus Law ini
              dianggap sebagai produk rezim saat ini yang menekan kaum buruh. "Omnibus Law membuat
              kesejahteraan buruh turun hingga berdampak mengancam anak cucu," katanya.

              Omnibus Law juga menghapus upah minimum sektoral kota dan kabupaten (UMSK). "Jangan
              disamakan antara perusahaan mobil dan perusahaan kerupuk! Ini sangat keterlaluan kalau upah
              sektoral tidak ada," katanya.
              Dia  menyebut,  sedikitnya  ada  tiga  variabel  kesejahteraan  buruh,  yakni  Job  Security
              (keterjaminan pekerjaan), Income Security (keterjaminan penghasilan) dan perlindungan sosial
              (Social Security). "Semuanya hilang akibat Omnibus Law. Maka KSPI mengajukan Judicial Review
              di Mahkamah Konstitusi (MK) yang hari ini, Senin, 12 April 2021 diadakan sidang lanjutan di
              Mahkamah Konstitusi," imbuh dia.


                                                           837
   833   834   835   836   837   838   839   840   841   842   843