Page 98 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2021
P. 98

kerja. Hal ini agar target pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)
              Darurat dapat tercapai dengan maksimal. "Menanggapi situasi dunia usaha dalam masa PPKM
              Darurat ini, maka dibutuhkan penyesuaian terkait jumlah pekerja di perusahaan, pelaksanaan
              prokes di tempat kerja, penyesuaian waktu kerja, dan dampaknya terhadap hak-hak pekerja,"
              kata Menaker Ida melalui Siaran Pers Biro Humas, Rabu (14/7).



              KEMNAKER SIAPKAN SEJUMLAH OPSI UNTUK PERUSAHAAN DI MASA PPKM
              DARURAT

              Untuk memaksimalkan penanganan pandemi COVID-19, Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah,
              meminta  perusahaan,  khususnya  yang  berada  di  sektor  esensial,  untuk  memperketat  waktu
              kerja. Hal ini agar target pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)
              Darurat dapat tercapai dengan maksimal.

              "Menanggapi situasi dunia usaha dalam masa PPKM Darurat ini, maka dibutuhkan penyesuaian
              terkait jumlah pekerja di perusahaan, pelaksanaan prokes di tempat kerja, penyesuaian waktu
              kerja, dan dampaknya terhadap hak-hak pekerja," kata Menaker Ida melalui Siaran Pers Biro
              Humas, Rabu (14/7).

              Menaker Ida menjelaskan, pelaksanaan PPKM Darurat telah diatur melalui Inmendagri No.18
              Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Inmendagri No.15 Tahun 2021.

              Melalui  Inmendagri  tersebut,  sektor  esensial  menjadi  salah  satu  sektor  yang  diizinkan  untuk
              bekerja dari kantor (WFO) hingga mencapai 50%. Meski begitu, perusahaan di sektor esensial
              diharapkan lebih memperketat waktu kerja guna memaksimalkan PPKM Darurat.

              "Sepanjang dipastikan telah memenuhi kriteria dalam Inmendagri, maka perusahaan di sektor
              esensial dapat membuat opsi-opsi untuk memaksimalkan proses produksi," jelas Menaker Ida.

              Opsi  tersebut  di  antaranya  adalah  pekerja/buruh  hanya  bekerja  15  hari  dalam  satu  bulan.
              Artinya, 15 hari untuk bekerja dari kantor (WFO) dan 15 hari sisanya untuk bekerja dari rumah
              (WFH),  sebagaimana  sempat  diusulkan  oleh  Menteri  Koordinator  Bidang  Kemaritiman  dan
              Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

              "Opsi lainnya bisa berupa penerapan shift kerja di perusahaan agar tidak terjadi penumpukan
              pekerja pada shift yang sama," kata Menaker Ida.

              Opsi lainnya yakni melakukan pekerjaan secara 2-1 (2 hari kerja dan 1 hari libur). Dengan opsi
              ini maka seluruh pekerja bisa memperoleh giliran kerja.

              Selain itu, perusahaan dapat pula memilih merampingkan divisi/unit kerja yang bukan core/inti,
              yang  tidak  membutuhkan  pekerja  sebesar  di  masa  normal.  Sehingga  jumlah  pekerja  di  unit
              core/inti dapat dimaksimalkan.

              Perusahaan  juga  dapat  memilih  opsi-opsi  lain  sesuai  dengan  karakter  proses  produksi  di
              perusahaan masing-masing.

              "Opsi-opsi ini dimaksudkan agar perusahaan dapat beroperasi semaksimal mungkin dalam situasi
              PPKM, sehingga ekonomi dapat tetap berjalan," kata Menaker Ida melanjutkan.
                                                           97
   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103