Page 124 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 24 MARET 2021
P. 124

JADI BAHAN KAMPANYE HITAM, INDUSTRI SAWIT PASTIKAN PATUHI ATURAN
              KETENAGAKERJAAN
              Jakarta - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono
              menegaskan  industri  kelapa  sawit  Indonesia  berkomitmen  untuk  memenuhi  aturan
              ketenagakerjaan yang berlaku. Termasuk bagi pekerja di sektor perkebunan kelapa sawit .

              "Industri sawit Indonesia tetap punya komitmen untuk comply (memenuhi) kepada regulasi.
              Khususnya  ketenagakerjaan  juga  di  perkebunan,"  ungkap  dia  dalam  webinar  bertajuk
              Perlindungan Pekerja Perempuan di Perkebunan Sawit, Selasa (23/3).

              Bos Gapki ini menjelaskan, komitmen untuk taat pada aturan ketenagakerjaan diperkuat atas
              sertifikasi yang diberikan oleh Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) kepada industri
              sawit nasional. ISPO sendiri merupakan upaya pemerintah untuk memastikan seluruh kegiatan
              di industri sawit nasional tetap ramah lingkungan, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden
              (Perpres)  Nomor  44  tahun  2020  tentang  Sistem  Sertifikasi  Perkebunan  Kelapa  Sawit
              Berkelanjutan Indonesia.

              "Dan  masalah  ketenagakerjaan  menjadi  satu  yang  penting  di  ISPO,  dan  itu  menjadi  prinsip
              keempat. Ini bukti bahwa aturan sawit comply dengan aturan ketenagakerjaan," tambahnya.

              Oleh  karena  itu,  Gapki  memastikan  bahwa  industri  sawit  nasional  terus  bersolek  untuk
              terciptanya iklim kerja yang tidak hanya ramah lingkungan namun juga ramah terhadap para
              pekerjanya. Menyusul adanya sejumlah pengakuan dari lembaga terpercaya yang independen.

              "Sekali lagi kami proses ini menjadi sarana untuk memperbaiki iklim Ketenagakerjaan di industri
              dan perkebunan sawit . Kita sudah melihat itu," tegasnya.

              Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono
              memastikan  persoalan  ketenagakerjaan  masih  menjadi  amunisi  andalan  untuk  melakukan
              kampanye  hitam  terhadap  industri  kelapa  sawit  di  kancah  internasional.  Khususnya  terkait
              permasalahan yang menimpa kelompok pekerja perempuan dan anak.

              "Jadi, masih banyak isu yang bernuansa kan ketenagakerjaan di sektor sawit yang kemudian
              menjadi alat untuk kampanye negatif," ungkapnya dalam webinar bertajuk Perlindungan Pekerja
              Perempuan di Perkebunan Sawit, Selasa (23/3).

              Dia mengungkapkan, sorotan akan persoalan ketenagakerjaan terhadap kelompok perempuan
              dan anak sendiri pertama kali disorot oleh dunia internasional sejak 2016 lalu. Saat itu, ada salah
              satu lembaga pemantau hak asasi manusia, Amnesty International yang mengendus adanya
              kerja paksa yang melibatkan anak-anak di perkebunan sawit.

              "Itulah  sebenarnya  yang  muncul  2016  kemudian  beberapa  isu  lainnya  muncul  belakangan,"
              terangnya.

              Dia menambahkan, persoalan ketenagakerjaan lainnya yang menyedot perhatian internasional
              adalah pelecehan seksual terhadap pekerja sawit perempuan, yang kemudian kembali digunakan
              sebagai  alat  untuk  melakukan  kampanye  negatif  terhadap  industri  sawit.  Sebagaimana yang
              ramai diberitakan kantor media asing pada 2020 lalu.

              "Amerika, bahkan sempat melarang sawitnya Malaysia karena dianggap perkebunan kelapa sawit
              di Malaysia itu melakukan kerja paksa terhadap anak dan pelecehan," terangnya.






                                                           123
   119   120   121   122   123   124   125   126   127   128   129