Page 53 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 AGUSTUS 2021
P. 53

Akan tetapi, kata dia, ada potensi konÌik yang ditimbulkan ketika pemerintah terkesan lepas
              tangan.
              Pastinya  pengusaha  punya  pertimbangan  sendiri  untuk  menetapkan  standar  kenaikan  UMP.
              Dengan  kondisi  sekarang,  dia  menilai  penyesuaian  sangat  sulit.  Apalagi  belum  ada  sinyal
              perbaikan ekonomi ke depannya.

              “Buruh pasti punya pandangan sendiri juga dalam mengusulkan UMP ini. Tentu jika dibiarkan ini
              akan menimbulkan masalah. Di sinilah pemerintah harus mengambil peran penting,” bebernya,
              Kamis, 5 Agustus.

              Tahun lalu, kata dia, pemerintah memang mengeluarkan kebijakan untuk menahan kenaikan
              UMP. Namun setelah itu, mereka terkesan lepas tangan. Kebijakan ini tak dikawal dengan baik,
              hingga ada beberapa daerah yang tak mengikutinya. La Tunreng berharap, pemerintah punya
              sikap tegas.

              “Berharap pengusaha juga ikut dilibatkan dalam setiap kebijakan. Jangan sampai setelah keluar
              (regulasi) justru tak berjalan,” tambahnya.

              Pada 2020 lalu Kemnaker memang mengeluarkan edaran agar tak ada provinsi yang menaikkan
              UMP tahun ini. Namun kenyataannya berbeda. Apalagi Sulsel menjadi salah satu daerah yang
              turut menaikkan UMP 2021.

              Koordinator Wilayah Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), Andi Mallanti, tetap
              berharap agar ada kenaikan UMP tahun depan. Apalagi tak semua sektor terpengaruh PPKM.
              Misalnya saja seperti hotel, restoran, dan retail.

              Sementara Makassar, kata dia, didomunasi perusahaan produksi dan distributor. “Pada dasarnya
              usaha ini tak terpengaruh PPKM. Artinya mesti ada kenaikan. Karena hanya sedikit sektor usaha
              yang terdampak pembatasan,” tambahnya.

              Kepala  Bidang  Hubungan  Industri  Disnakertrans  Sulsel,  Akharyanto  tak  bisa  berkomentar
              banyak. Nantinya akan ada pembahasan bersama dengan jajaran dewan pengupahan terkait
              kebijakan itu. (*)



































                                                           52
   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58