Page 13 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 JUNI 2021
P. 13

PEKERJA ANAK DI INDONESIA TEMBUS 1,5 JUTA ORANG

              Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemnaker)  memastikan  komitmennya  untuk  terus  berupaya
              menghapus  pekerja  anak.  Dalam  perkembangannya  pemerintah  sudah  melakukan  penarikan
              pekerja anak dari berbagai jenis pekerjaan terburuk sejak2008.

              Dalam periode 2008 hingga 2020 terdapat 143.456 pekerja anak yang telah ditarik dari sekitar
              1,5  juta  pekerja  anak  yang  berumur  10-17  tahun  berdasarkan  Data  survei  Sosial  Ekonomi
              Nasional yang dilakukan oleh BPS pada 2019.Hal ini disampai-kan Menteri Ketenagakerjaan, Ida
              Fauziyah, saat menyampaikan keynote speech pada acara End Child labour virtual race 2021
              yang diselenggarakan oleh ILO dalam rangka World Day Against Labour 2021 secara virtual di
              Jakarta, Sabtu (12/6).

              Ida menyampaikan bahwa pemerintah memiliki komitmen besar untuk menghapus pekerja anak.
              Hal  ini  ditandai  dengan  ratifikasi  Konvensi  lLO  No  138  mengenai  usia  minimum  yang
              diperbolehkan bekerja dengan Undang-Undang No 20 Tahun 1999.
              Selain itu pemerintah juga memasukkan substansi teknis yang ada dalam Konvensi ILO tersebut
              dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan. "Kami di Kemnaker serius
              dan  tegas  dalam  melakukan  berbagai  upaya  konkret  guna  mengurangi  pekerja  anak  di
              Indonesia,"jelas Ida.
              Berbagai  upaya  yang  akan  dilakukan  di  tahun  ini.  Di  antaranya  meningkatkan  kesadaran
              masyarakat,  terutama  di  daerah  perdesaan  dan  pada  kelompok  rentan,  agar  peduli  pada
              pemenuhan hak anak dan tidak melibatkan anak dalam pekerjaan berbahaya. Hal ini dilakukan
              antara lain melalui supervisi kc perkebunan kelapa sawit dan perkebunan tembakau.

              Kemudian  langkah  koordinasi  dan  asistensi  untuk-mengembalikan  anak-anak  ke  pendidikan
              dengan menggunakan berbagai pendekatan serta memberikan pelatihan pada pekerja anak dari
              kelompok  rentan  (putus  sekolah  dan  keluarga  miskin)  dalamprogram  pelatihan  berbasis
              komunitas  dan  pemagangan  pada  lapangan  pekerjaan.  Selanjutnya  memfasilitasi  intervensi
              bantuan  sosial  atau  pelindungan  sosial  pada  kelompok/buruh  dan  keluarga  miskin  yang
              terdampak  Covid-19  yang  memiliki  kerentanan  terhadap  anggota  keluarga  untuk  menjadi
              pekerja anak.

              Seterusnya melakukan supervisi atau pemeriksaan ke perusahaan yang diduga mempekerjakan
              anak,  melakukan  '  sosialisasi  atau  penyebarluasan  informasi  norma  kerja  anak  kepada
              stakeholder. Terakhir, pencanangan zona atau kawasan bebas pekerja anak di Sumatera Utara,
              Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.

              Ida mengakui, saat ini masih ada anak di Indonesia yang belum memperoleh hak mereka secara
              penuh,  terutama  anak  yang  terlahir  dari  keluarga  pra-sejahtera.  "Ketidakberdayaan  ekonomi
              orang tua dalam memenuhi kebutuhan keluarga memaksa anak-anak terlibat dalam pekerjaan
              yang membahayakan atau bahkan terjerumus dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk
              anak yang sangat merugikan keselamatan, kesehatan, dan tumbuh kembang anak," ungkapnya.
              Ida  memberikan  apresiasi  setinggi-tingginya  kepada  para  pihak  atas  partisipasinya  dalam
              penanggulangan  pekerja  anak  serta  mengajak  instansi  terkait  dan  seluruh  komponen
              masyarakat untuk bersama-sama mendukung penanggulangan pekerja anak secara nasional.
              "Stop pekerja anak! Mari dukung upaya pemerintah dengan meningkatkan kepedulian kepada
              anak-anak sekitar kita," tegas Ida.

              Dirjen Binwasnaker dan K3 Haiyani Rumondang menambahkan, pekerja anak yangtelahberhasil
              ditarik dari dunia kerja kemudian ditindaklanjuti ke dunia pendidikan, yaitu pendidikan formal
              (SD/MI, SMR/MTs, SMA/ MA), pendidikan nonformal (paket A, paket B, paket C, dan pesantren).

                                                           12
   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18