Page 444 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 JUNI 2021
P. 444

Demikian hasil riset "Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Melalui Layanan Terpadu Satu
              Atap yang Berperspektif HAM dan Gender" oleh Jaringan Buruh Migran (JBM), yang diluncurkan
              Kamis (10/6/2021). Pada riset itu belum terlihat aspek responsif jender dalam LTSA.

              "Padahal,  kita  sudah  lama  mempunyai  perhatian  untuk  pengarusutamaan  jender  melalui
              Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000, tetapi sampai saat ini sulit diterapkan. Aspek responsif
              jender  belum  terlihat  dari  LTSA  meski  kebanyakan  calon  PMI  yang  akan  keluar  negeri  itu
              perempuan," ujar Avyanthi Azis, peneliti utama studi itu.

              Dari  riset  itu  ditemukan  kedekatan  LTSA  dengan  swasta,  yang  diindikasikan  melanggengkan
              perantaraan dalam layanan bagi pekerja migran. LTSA tak diakses mandiri oleh calon PMI, tapi
              PMI justru dibawa calo atau petugas perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia (P3MI)-

              Melanggengkan eksploitasi

              Savitri  Wisnuwardhani,  Sekretariat  Nasional  JBM,  menuturkan,  LTSA  merupakan  amanat
              Undang-Undang  Nomor  18  Tahun  2017  tentang  Perlindungan  PMI.  Layanan  yang
              diselenggarakan  pemerintah  provinsi/kabupaten  diharapkan  mengurangi  masalah  dan
              menghilangkan  praktik  intermediasi  oleh  broker  informal  (calo)  yang  berkontribusi  pada
              langgengnya eksploitasi PMI di setiap tahapan migrasi kerja.

              "Hingga  kini  LTSA  ada  di  45  daerah  di  tingkat  provinsi  dan  kabupaten.  Dari  pantauan  yang
              teridentifikasi  organisasi  pekerja  migran  dan  organisasi  pemerhati  pekerja  migran  Indonesia,
              banyak praktik minim perlindungan sehingga fungsi LTSA tidak berjalan maksimal," ujarnya.

              Sebagai contoh, ada indikasi LTSA mempermudah broker informal mengurus dokumen kerja
              pekerja migran dibandingkan pekerjanya, PMI tidak mengetahui keberadaan dan manfaat LTSA,
              dan belum ada loket pengaduan di LTSA

              Hanya 43 responden (20,6 persen) mengetahui LTSA, sedangkan 166 orang (79,4 persen) calon
              PMI/PMI  tidak  mengetahui  ada  LTSA  Mayoritas  (42,9  persen)  dari  43  responden  yang
              mengetahui  LTSA  mendapatkan  informasi  dari  P3MI.  Sisanya  mengetahui  dari  serikat  atau
              komunitas PMI, teman PMI, dan dari internet atau media massa.

              Sudaryanto, Senior Program Officer Yayasan TIFA, menilai perempuan rentan dalam tata kelola
              migrasi di Indonesia. Padahal, kesetaraan dan keadilan jender perlu mendapat perhatian dalam
              berbagai kebijakan terkait buruh migran.

              Karena itu, Anwar Maarif, Sekretaris Jenderal DPN Serikat Buruh Migran Indonesia, mendesak
              agar  pemerintah  menerbitkan  aturan  turunan  Undang-Undang  Perlindungan  Pekerja  Migran
              Indonesia dan melakukan sosialisasi layanan yang responsif jender. (SON)





















                                                           443
   439   440   441   442   443   444   445   446