Page 113 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 APRIL 2021
P. 113

KABAR BAIK, PEKERJA KONTRAK DAN OUTSOURCING TETAP TERIMA THR

              MANADOPOST.ID  -  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemnaker)  memastikan  pekerja  dengan
              status outsourcing (alih daya), kontrak, ataupun pekerja tetap (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu
              / PKWT) atau Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu/PKWTT) berhak menerima Tunjangan Hari
              Raya (THR) Keagamaan.

              Hal ini diungkap Direktur Jenderal (Dirjen) Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial
              Tenaga Kerja (PHI dan Jamsos) Kemnaker Indah Anggoro Putri di kantor Kemnaker, Jakarta,
              Minggu  (25/4).  Menurut  Putri,  sesuai  Surat  Edaran  (SE)  Nomor  M/6/HK.04/IV/2021  tentang
              Pelaksanaan Pemberian THR Keagamaan Tahun 2021 bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan, yang
              pada  prinsipnya  mewajibkan  pengusaha  memberi  THR  Keagamaan  secara  penuh  kepada
              pekerja/buruhnya pada H-7 Lebaran.

              "THR Keagamaan wajib diberikan dalam bentuk uang rupiah dan paling lambat 7 hari sebelum
              hari raya keagamaan, " kata Dirjen Putri. Dia menjelaskan ada tiga jenis pekerja/buruh yang
              berhak memperoleh THR Keagamaan. Pertama, pekerja/buruh berdasarkan PKWT atau PKWTT
              yang memiliki masa kerja satu bulan secara menerus atau lebih.

              Kedua, pekerja/buruh berdasarkan PKWTT yang mengalami PHK oleh pengusaha terhitung sejak
              H-30 hari sebelum hari raya keagamaan. Ketiga, pekerja/buruh yang dipindahkan ke perusahaan
              lain dengan masa kerja berlanjut, apabila dari perusahaan lama belum mendapatkan THR.

              Putri menegaskan THR wajib dibayar penuh dan tepat waktu. Menurutnya, dalam pembayaran
              THR,  tidak  ada  perbedaan  status  kerja.  "Para  pekerja  outsourcing  maupun  pekerja  kontrak,
              asalkan telah bekerja selama 1 bulan atau lebih dan masih memiliki hubungan kerja pada saat
              hari keagamaan berlangsung, maka berhak mendapatkan THR juga," ujar Dirjen Putri.

              Ketentuan besarnya THR berdasarkan peraturan THR Keagamaan adalah 1 bulan upah untuk
              pekerja/buruh  yang  mempunyai  masa  kerja  12  bulan  secara  terus  menerus  atau  lebih.
              Sementara, pekerja/buruh yang masa kerjanya 1 bulan secara terus menerus sampai dengan
              kurang dari 12 bulan, berhak mendapat THR yang dihitung secara proporsional sesuai masa
              kerjanya.

              Penghitungan upah sebulan yakni upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih (clean
              wages); atau upah pokok termasuk tunjangan tetap. Dalam hal upah terdiri dari upah pokok dan
              tunjangan  tidak  tetap  maka  perhitungan  THR  dihitung  berdasarkan  upah  pokok.  Dari
              perhitungan  upah  tersebut,  kata  Putri,  tidak  menutup  kemungkinan  perusahaan  juga  dapat
              memberikan THR yang nilainya lebih besar dari peraturan perundang-undangan.

              "Hal  tersebut  terlebih  dahulu  ditetapkan  dalam  perjanjian  kerja,  peraturan  perusahaan  atau
              perjanjian  kerja  bersama  atau  kebiasaan  yang  selama  ini  memang  telah  dilakukan  oleh
              perusahaan," ujar Dirjen Putri. Pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian,
              upah satu bulan dihitung melalui dua ketentuan.

              Yakni memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih (rata-rata upah yang diterima dalam 12 bulan
              terakhir sebelum hari raya) dan masa kerja kurang dari 12 bulan (rata-rata upah yang diterima
              tiap bulan selama masa kerja). (jpnn).











                                                           112
   108   109   110   111   112   113   114   115   116   117   118