Page 172 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 APRIL 2021
P. 172

KEMNAKER TEGASKAN PEKERJA KONTRAK DAN OUTSOURCING BERHAK TERIMA
              THR
              Kementerian  Ketenagakerjaan  memastikan  pekerja  dengan  status  outsourcing  (alih  daya),
              kontrak, ataupun pekerja tetap (PKWT dan PKWTT) berhak menerima tunjangan hari raya (THR)
              keagamaan.

              Dirjen  Pembinaan  Hubungan  Industrial  dan  Jaminan  Sosial  Tenaga  Kerja  (PHI  dan  Jamsos)
              Kemnaker  Indah  Anggoro  Putri  mengatakan,  terdapat  tiga  jenis  pekerja/buruh  yang  berhak
              memperoleh THR keagamaan.

              -   pekerja/buruh berdasarkan PKWT (perjanjian kerja waktu tertentu) atau PKWTT (perjanjian
                  kerja waktu tidak tertentu) yang memiliki masa kerja 1 bulan secara menerus atau lebih.
              -   pekerja/buruh berdasarkan PKWTT yang mengalami PHK oleh pengusaha terhitung sejak H-
                  30 hari sebelum hari raya keagamaan.
              -   pekerja/buruh yang dipindahkan ke perusahaan lain dengan masa kerja berlanjut, apabila
                  dari perusahaan lama belum mendapatkan THR.

              "THR wajib dibayar penuh dan tepat waktu. Dalam pembayaran THR tidak ada perbedaan status
              kerja. Para pekerja maupun pekerja kontrak, asalkan telah bekerja selama 1 bulan atau lebih
              dan  masih  memiliki  hubungan  kerja  pada  saat  hari  keagamaan  berlangsung,  maka  berhak
              mendapatkan THR juga," kata Indah dalam keterangan tertulis, Minggu (25/4).

              Dia  mengatakan, ketentuan  besarnya  THR berdasarkan  peraturan THR keagamaan  adalah  1
              bulan upah untuk pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus
              atau lebih, sedangkan pekerja/buruh yang masa kerjanya 1 bulan secara terus menerus sampai
              dengan kurang dari 12 bulan, berhak mendapat THR yang dihitung secara proporsional sesuai
              masa kerjanya.

              Penghitungan upah sebulan yakni upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih (clean
              wages) atau upah pokok termasuk tunjangan tetap. Dalam hal upah terdiri dari upah pokok dan
              tunjangan tidak tetap maka perhitungan THR dihitung berdasarkan upah pokok.

              "Dari  perhitungan  upah  tersebut,  tidak  menutup  kemungkinan  perusahaan  juga  dapat
              memberikan  THR yang nilainya  lebih  besar dari  peraturan perundang-undangan,  dimana  hal
              tersebut  terlebih  dahulu  ditetapkan  dalam  perjanjian  kerja,  peraturan  perusahaan  atau
              perjanjian  kerja  bersama  atau  kebiasaan  yang  selama  ini  memang  telah  dilakukan  oleh
              perusahaan," terang Indah.

              Sedangkan pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian, upah satu bulan
              dihitung melalui dua ketentuan. Yakni memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih (rata-rata upah
              yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya) dan masa kerja kurang dari 12 bulan
              (rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja).

              Adapun,  sesuai  dengan  Surat  Edaran  (SE)  Nomor  M/6/HK.04/IV/2021  tentang  Pelaksanaan
              Pemberian  Tunjangan  Hari  Raya  (THR)  Keagamaan  Tahun  2021  bagi  Pekerja/Buruh  di
              Perusahaan,  pengusaha  diwajibkan  untuk  memberi  THR  Keagamaan  secara  penuh  kepada
              pekerja/buruhnya pada H-7 Lebaran.

              "THR Keagamaan wajib diberikan dalam bentuk uang rupiah dan paling lambat 7 hari sebelum
              hari raya keagamaan," lanjut Indah.






                                                           171
   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176   177