Page 47 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 APRIL 2021
P. 47

KEMNAKER INGATKAN PENGUSAHA BAYAR THR PEGAWAI OUTSOURCING &
              KONTRAK PENUH DAN TEPAT WAKTU
              Lamjo Jak, Jakarta Diijen Pembinaan Hubungan Indiustrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI
              dan  Jamsos)  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemenaker)  Indah  Anggoro  Putri  memastikan,
              pekerja dengan status outsourcing (alih daya), kontrak, ataupun pekerja tetap berhak menerima
              Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan.

              Pembayaran THR Keagamaan ini sesuai Surat Edaran (SE) Nomor M/6/HK.04/IV/2021 tentang
              Pelaksanaan Pemberian THR Keagamaan Tahun 2021 bagi Pekerja'Bumh di Perusahaan, yang
              mewajibkan  pengusaha  untuk  memberi  THR  Keagamaan  secara  penuh  kepada  pekerja/bu-
              ruhnya pada H-7 Lebaran.

              'THR Keagamaan wajib diberikan dalam bentuk uang rupiah dan paling lambat 7 hari sebelum
              hari raya keagamaan, " kata Putri, seperti dilansir dari RM.id, Minggu (25/4).

              Dijelaskan  Putri,  ada  tiga  jenis  pekerja/buruh  yang  berhak  memperoleh  THR  Keagamaan.
              Pertama,  pekerja/buruh  berdasarkan  PKWT  (Perjanjian  Kerja  Waktu  Tertentu)  atau  PKWTT
              (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu) yang memiliki masa kerja 1 bulan secara menerus atau
              lebih. Kedua, pekerja/buruh berdasarkan PKWTT yang mengalami PHK oleh pengusaha terhitung
              sejak  H-30  hari  sebelum  hari  raya  keagamaan.  Ketiga,  pekerja/  buruh  yang  dipindahkan  ke
              perusahaan lain dengan masa kerja berlanjut, apabila dari perusahaan lama belum mendapatkan
              THR.

              "THR wajib dibayar penuh dan tepat waktu. Dalam pembayaran THR tidak ada perbedaan status
              kerja. Para pekerja outsourcing maupun pekerja kontrak, asalkan telah bekerja selama 1 bulan
              atau lebih dan masih memiliki hubungan kerja pada saat hari keagamaan berlangsung, maka
              berhak mendapatkan THR juga," ujar Putri.

              Ketentuan besarnya THR berdasarkan peraturan THR Keagamaan adalah 1 bulan upah untuk
              pekerja/  buruh  yang  mempunyai  masa  kerja  12  bulan  secara  terus-menerus  atau  lebih.
              Sedangkan pekerja/buruh yang masa kerjanya 1 bulan secara terus-menerus sampai dengan
              kurang dari 12 bulan, berhak mendapat THR yang dihitung secara proporsional sesuai masa
              kerjanya.

              Penghitungan upah sebulan yakni upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih (clean
              wages); atau upah pokok termasuk tunjangan tetap. Dalam hal upah terdiri dari upah pokok dan
              tunjangan tidak tetap maka perhitungan THR dihitung berdasarkan upah pokok.

              "Dari  perhitungan  upah  tersebut,  tidak  menutup  kemungkinan  perusahaan  juga  dapat
              memberikan  THR  yang  nilainya  lebih  besar  dari  peraturan  perundang-undangan,  yang  hal
              tersebut terlebih dahulu ditetapkan dalam peijanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian
              kerja bersama atau kebiasaan yang selama ini memang telah dilakukan oleh perusahaan," ujar
              Putri.

              Sedangkan pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian, upah satu bulan
              dihitung melalui dua ketentuan. Yakni memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih (rata-ra-ta upah
              yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya) dan masa kerja kurang dari 12 bulan
              (rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja). (LHTJ/RM.id)









                                                           46
   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52