Page 62 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 APRIL 2021
P. 62

PEKERJA KONTRAK BERHAK TERIMA THR

              Dirjen  Pembinaan  Hubungan  Industrial  dan  Jaminan  Sosial  Tenaga  Kerja  (PHI  dan  Jamsos)
              Kemenaker  Indah  Anggoro Putri  memastikan pekerja  dengan  status  outsourcing  (alih  daya),
              kontrak,  ataupun  pekerja  tetap  (PKVVT  dan  PKVVTT)  berhak  menerima  tunjangan  hari  raya
              (THR) keagamaan.

              Pembayaran THR Keagamaan ini sesuai Surat Edaran (SE) Nomor M/6/HK.04/IV/2021 tentang
              Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan Tahun 2021 bagi Pekerja/Buruh
              di Perusahaan, pada prinsipnya mewajibkan pengusaha untuk memberi THR keagamaan secara
              penuh  kepada  pekerja/buruhnya  pada  H-7 Lebaran.  'THR  Keagamaan  wajib diberikan  dalam
              bentuk uang rupiah dan paling lambat 7 hari sebelum hari raya keagamaan, " kata Indah Angoro
              Putri di Kantor Kemenaker Jakarta, Minggu (25/4/2021).

              Ada tiga jenis pekerja/buruh yang berhak memperoleh THR keagamaan. Pertama, pekerja/buruh
              berdasarkan PKWT (perjanjian kerja waktu tertentu) atau PKVVTT (perjanjian kerja waktu tidak
              tertentu) yang memiliki masa kerja 1 bulan secara menerus atau lebih.

              Kedua,  pekerja/buruh  berdasarkan  PKVVTT  yang  mengalami  PHK  oleh  pengusaha  terhitung
              sejak  H-30  hari  sebelum  hari  raya  keagamaan.  Ketiga,  pekerja/buruh  yang  dipindahkan  ke
              perusahaan lain dengan masa kerja berlanjut, jika dari perusahaan lama belum memberikan
              THR.

              "THR wajib dibayar penuh dan tepat waktu. Dalam pembayaran THR tidak ada perbedaan status
              kerja. Para pekerja outsourcing maupun pekerja kontrak, asalkan telah bekerja selama 1 bulan
              atau lebih dan masih memiliki hubungan kerja pada saat hari keagamaan berlangsung, maka
              berhak mendapatkan THR juga," ujar Putri.

              Ketentuan besarnya THR berdasarkan peraturan THR keagamaan adalah 1 bulan upah untuk
              pekerja/buruh  yang  mempunyai  masa  kerja  12  bulan  secara  terus  menerus  atau  lebih,
              sedangkan pekerja/buruh yang masa kerjanya 1 bulan secara terus menerus sampai dengan
              kurang dari 12 bulan, berhak mendapat THR yang dihitung secara proporsional sesuai masa
              kerjanya.

              "Dari  perhitungan  upah  tersebut,  tidak  menutup  kemungkinan  perusahaan  juga  dapat
              memberikan THR yang nilainya lebih besar dari peraturan perundang-undangan, yang terlebih
              dahulu ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama
              atau kebiasaan yang selama ini memang telah dilakukan oleh perusahaan," ujar Putri, dikutip
              kontributor "PR" Satrio Widianto.***

























                                                           61
   57   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67