Page 376 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 9 NOVEMBER 2020
P. 376

LAPANGAN KERJA MINIM, LULUSAN SMK DOMINASI ANGKA PENGANGGURAN

              - Persebaran virus SARS-CoV-2 berdampak serius ke perekonomian. Yang paling nyata adalah
              naiknya angka pengangguran. Porsinya lebih banyak di kota daripada di desa.

              Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan bahwa jumlah pengangguran  di
              Indonesia  mencapai  9,77  juta  orang  pada  Agustus  lalu.  Atau,  sekitar  7,07  persen  terhadap
              jumlah angkatan kerja (tingkat pengangguran terbuka/TPT). Angka tersebut naik 2,67 juta orang
              jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dengan TPT 5,23 persen.

              Menurut Suhariyanto, penambahan pengangguran tersebut turut dipengaruhi pandemi Covid-
              19. "Bisa dilihat dampak pengangguran berdasar lokasi, peningkatan pengangguran di kota jauh
              lebih tinggi daripada di desa," ujarnya Kamis (5/11).

              Pengangguran  terbesar  terjadi  di  perkotaan,  dengan  TPT  8,98  persen.  Sementara  itu,  di
              perdesaan,  persentase  TPT  sebesar  4,71  persen.  Dia  menilai  dampak  pandemi  terhadap
              lapangan kerja lebih terasa di perkotaan ketimbang perdesaan.

              TPT  tertinggi  terjadi  di DKI  Jakarta  sebesar  10,95  persen  dan  Banten  yang  mencapai  10,64
              persen.  Namun,  kenaikan  TPT  terbesar  terjadi  di  Bali  yang  semula  hanya  1,57  persen  dari
              keseluruhan TPT Indonesia pada Agustus 2019 menjadi 5,63 persen pada Agustus 2020.

              Suhariyanto  menjelaskan,  aktivitas  pariwisata  yang  tersendat  menjadi  pemicu  utama
              peningkatan TPT di Bali. "Kita sadari, Covid-19 menghantam keras pariwisata. Di Bali, pariwisata
              memiliki peranan besar," jelasnya.

              Jika  dilihat  berdasar  tingkat  pendidikannya,  TPT  dari  lulusan  SMK  sebesar  13,55  persen.
              Sementara itu, yang paling rendah merupakan lulusan sekolah dasar (SD). Yakni, sekitar 3,61
              persen. "Di tengah pandemi, jumlah lowongan kerja menurun," terang Suhariyanto.

              Ekonom  Institute  for  Development  of  Economics  and  Finance  (Indef)  Abra  P.G.  Talattov
              menuturkan, dalam setahun ini, ada tambahan pengangguran sebanyak 2,67 juta orang. Wajar
              jika mayoritas dari mereka adalah lulusan SMK. Sebab, sektor industri memang sedang hancur.
              Jadi, peluang untuk mendapat pekerjaan semakin sulit lantaran minimnya lapangan kerja.

              Menurut  dia,  yang  perlu  pemerintah  lakukan  dalam  jangka  pendek  adalah  mengupayakan
              angkatan kerja lulusan SMK dengan berwirausaha. Tentu dengan difasilitasi modal kerja dan
              pembinaan berkelanjutan agar survive.

              "Dengan begitu, angkatan kerja SMK ini bisa mandiri dalam berusaha," kata Abra.

              Secara mekanisme penyaluran, lanjut dia, pemerintah tentu memiliki data yang akurat melalui
              Kementerian  Pendidikan  dan  Kebudayaan.  Pemerintah  tinggal  melakukan  sinergi  dengan
              Kementerian  Ketenagakerjaan  serta  Kementerian  Koperasi  dan  Usaha  Kecil  Menengah  untuk
              teknis pelaksanaan.

              Editor : Estu Suryowati Reporter : (dee/han/c12/hep).





                                                           375
   371   372   373   374   375   376   377   378   379   380   381