Page 446 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 AGUSTUS 2021
P. 446

Untuk itu, perluasan program perlindungan sosial (perlinsos) perlu dilakukan dengan cepat dan
              tepat,  terutama  kepada  kelompok  rentan  dengan  keterbatasan  akses  seperti  penyandang
              disabilitas yang menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2020, diperkirakan berjumlah
              6,2 juta orang atau 2,3 persen dari total populasi, dengan status disabilitas sedang dan berat.

              Pemangku  kebijakan  harus  mengembangkan  intervensi  yang  sesuai  dengan  potensi  dan
              hambatan penyandang disabilitas, tidak hanya sebagai respons di masa krisis seperti pandemi
              Covid-19, tetapi juga sebagai strategi jangka panjang untuk pemulihan pascapandemi di sektor
              perlindungan sosial, penghidupan, kesehatan, dan pendidikan.

              Sebagai  salah  satu  acuan  reformasi  perlinsos  untuk  penyandang  disabilitas,  Kementerian
              PPN/Bappenas  didukung  Kolaborasi  Masyarakat  dan  Pelayanan  untuk  Kesejahteraan  atau
              KOMPAK, Menuju Masyarakat Indonesia yang Kuat dan Sejahtera atau MAHKOTA, dan Jaringan
              Organisasi Penyandang Disabilitas merampungkan studi inklusif terkait Covid-19 yang menyasar
              penyandang disabilitas.

              Studi kuantitatif tersebut dilakukan pada April 2020, melibatkan 1.683 responden dari seluruh
              Indonesia, dan dilanjutkan dengan studi kualitatif pada Juli-Agustus 2020 yang mencakup 78
              informan di tujuh wilayah yang mewakili Indonesia Timur, Tengah, dan Barat, serta wilayah
              perkotaan dan pedesaan.

              "Selain  mampu  melindungi  masyarakat  rentan  dalam  menghadapi  krisis,  perluasan  program
              perlindungan sosial di masa pandemi Covid-19 diharapkan mampu menstimulus perekonomian
              sehingga efektif dalam mencegah kondisi krisis yang jauh lebih buruk," lanjut Maliki.

              Survei yang dilakukan Jaringan Organisasi Penyandang Disabilitas untuk respons inklusif Covid-
              19 di Indonesia di awal pandemi, yakni di April 2020, melaporkan proporsi yang signifikan, yakni
              penurunan pendapatan bagi 86 persen penyandang disabilitas yang secara umum bekerja di
              sektor informal.

              Pemberlakuan aturan untuk menjaga jarak fisik dan pembatasan aktivitas sosial selama pandemi
              membawa dampak paling besar terhadap mereka yang mengandalkan interaksi langsung dalam
              melaksanakan  pekerjaan  seperti  terapis  pijat,  penata  rambut,  dan  lain-lain.  Lebih  jauh  lagi,
              tercatat  hanya  sekitar  40  persen  responden  yang  sudah  menerima  setidaknya  satu  program
              bantuan  sosial  dari  pemerintah,  di  mana  hanya  empat  persen  dari  mereka  yang  menerima
              bantuan tunai.
              Dalam situasi krisis, perempuan lebih cenderung jatuh miskin dibandingkan laki-laki, terlebih
              karena  dalam  situasi  normal,  perempuan  mendapatkan  penghasilan  yang  cenderung  lebih
              rendah dibandingkan laki-laki. Perempuan juga lebih banyak menanggung tekanan finansial, fisik
              dan psikologis, terutama bila memiliki anak penyandang disabilitas.

              Beratnya  dampak  pandemi  Covid-19  juga  dialami  siswa  penyandang  disabilitas  yang  sejak
              sebelum pandemi menghadapi keterbatasan akses pendidikan. Peralihan metodologi pengajaran
              menjadi via daring yang terpaksa dilakukan selama pandemi, tidak selalu berhasil untuk siswa
              penyandang disabilitas.

              Temuan lain dari studi kualitatif menunjukkan cakupan program perlinsos, termasuk Bantuan
              Langsung  Tunai  yang  didanai  Dana  Desa,  mengalami  peningkatan  yang  signifikan,  jika
              dibandingkan dengan di awal pandemi. Kombinasi program di tingkat nasional dan daerah yang
              diluncurkan  berdasarkan  kewenangan  wilayah  telah  menjangkau  anggota  masyarakat  dari
              kelompok rentan yang biasanya terluput dari skema bantuan nasional sebagai respons pandemi
              Covid-19. Untuk itu, studi ini juga menyoroti pentingnya upaya memastikan kualitas data dan
              perbaikan mekanisme pendataan penyandang disabilitas.


                                                           445
   441   442   443   444   445   446   447   448   449   450   451