Page 1322 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1322

"Kami di Pemprov baru dapat soal kebijakan dari pemerintah pusat bahwa UMP 2021 disamakan
              dengan UMP 2020, tentu kami di Pemprov DKI mengacu pada peraturan dan ketentuan yang
              ada," kata Riza di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2020.

              Namun  demikian,  Riza  menyebut  bahwa  pihaknya  juga  menyadari  ada  keinginan  dari  para
              pekerja supaya ada peningkatan upah, karenanya dia menyebut hal tersebut akan didiskusikan
              lebih lanjut.

              "Kan apapun bentuk keputusannya itu kita harus hormati sesuai dengan kewenangan masing-
              masing, tentu karena sudah ada keputusan dari pemerintah pusat untuk tidak menaikkan UMP,
              kita harus menghormatinya, namun masyarakat juga bukan berarti tidak boleh mengusulkan
              aspirasinya, nanti kita diskusinya dengan pemerintah pusat untuk mengambil sebuah keputusan
              berdasarkan sebuah proses pertimbangan yang masak dan cermat," ucap Riza.

              Seperti diketahui, UMP tahun 2021 diminta untuk tidak naik dengan landasan Surat Edaran (SE)
              Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 11/HK04/X/2020 tentang Penetapan Upah
              Minimum tahun 2021 pada Masa Pandemi Covid-19.

              Tidak terkecuali di Jakarta juga diarahkan UMP 2021 untuk tidak akan mengalami kenaikan dari
              UMP 2020 dengan berkaca pada kondisi ekonomi Ibu Kota yang anjlok akibat wabah Covid-19.

              Diketahui, UMP DKI Jakarta tahun 2020 sebesar Rp4.276.349 per bulan, angka ini naik sekitar
              8,51 persen atau setara Rp335.376 dibanding UMP 2019 lalu.

              Naiknya  UMP  saat  itu  mengacu  pada  Surat  Edaran  Menteri  Ketenagakerjaan  bernomor  B-
              m/308/HI.01.00/X/2019 tentang Penyampaian Data Tingkat Inflasi Nasional dan Pertumbuhan
              Produk Domestik Bruto (PDB) Tahun 2019.

              Sementara untuk rumus kenaikan UMP mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun
              2015 tentang Pengupahan.

              Dalam surat edaran Menaker, disebutkan bahwa indikator kenaikan upah 8,51 persen merupakan
              penggabungan  antara  nilai  inflasi  nasional  3,39  persen  sampai  September  2019  dengan
              pertumbuhan PDB sebesar 5,12 persen.



































                                                          1321
   1317   1318   1319   1320   1321   1322   1323   1324   1325   1326   1327