Page 1877 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1877

GUBERNUR WAJIB UMUMKAN UMP 2021 TAK NAIK DI 31 OKTOBER 2020

              Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah memastikan Upah Minimum Provinsi ( UMP ) 2021 tidak
              naik.  Hal  ini  sesuai  dengan  Surat  Edaran  Menteri  Ketenagakerjaan  No  M/11/HK.04/x/2020
              tentang Penetapan Upah Minimum Tahun 2021 Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019
              (Covid-19), tertanggal 26 Oktober 2020. Atas dasar hal tersebut, Menteri Ida Fauziyah meminta
              kepada para gubernur di seluruh Indonesia untuk melakukan penyesuaian penetapan nilai Upah
              Minimum Tahun ( UMP ) 2020 sama dengan nilai Upah Minimum tahun 2020.

              "Menetapkan dan mengumumkan Upah Minimum Provinsi Tahun 2021 pada tanggal 31 Oktober
              2020," tulis Surat Edaran Menaker seperti dikutip, Selasa (27/1/2020).

              Menaker menjelaskan dalam latar belakang, pandemi Covid-19 telah berdampak pada kondisi
              perekonomian dan kemampuan perusahaan dalam memenuhi hak pekerja dan buruh termasuk
              dalam membayar upah.

              Untuk itu, dalam rangka memberikan perlindungan dan kelangsungan usaha, perlu dilakukan
              penyesuaian terhadap penetapan UMP pada situasi pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-
              19.

              Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, buruh Indonesia
              meminta agar upah minimum tahun 2021 naik. Dia menolak permintaan kalangan pengusaha
              yang meminta agar di tahun depan tidak ada kenaikan upah minimum.

              Menurutnya,  kenaikan  upah  yang  ideal  adalah  sebesar  8  persen.  Hal  ini  didasarkan  pada
              kenaikan upah rata-rata selama 3 tahun terakhir.

              Jika upah minimum tidak naik, kata Said Iqbal, hal ini akan membuat situasi semakin panas.
              Apalagi saat ini para buruh masih memperjuangkan penolakan terhadap UU Cipta Kerja.
              Di  mana  seiring  dengan  penolakan  omnibus  law,  buruh  juga  akan  menyuarakan  agar  upah
              minimum 2021 tetap naik. Sehingga aksi-aksi akan semakin besar.

              Menurut Iqbal, alasan upah tidak naik karena saat ini pertumbuhan ekonomi minus tidak tepat.
              Bandingkan dengan apa yang terjadi pada tahun 1998, 1999, dan 2000.

              "Sebagai contoh, di DKI Jakarta, kenaikan upah minimum dari tahun 1998 ke 1999 tetap naik
              sekitar 16 persen, padahal pertumbuhan ekonomi tahun 1998 minus 17,49 persen. Begitu juga
              dengan upah minimum tahun 1999 ke 2000, upah minimum tetap naik sekitar 23,8 persen,
              padahal pertumbuhan ekonomi tahun 1999 minus 0,29 persen," kata Said Iqbal.

              "Jadi  tidak  ada  alasan  upah  minimum  tahun  2020  ke  2021  tidak  ada  kenaikan  karena
              pertumbuhan  ekonomi  sedang  minus.  Saat  Indonesia  mengalami  krisis  1998,  di  mana
              pertumbuhan ekonomi minus di kisaran 17 persen tapi upah minimum di DKI Jakarta kala itu
              tetap naik bahkan mencapai 16 persen," ujarnya.

              Menurut Said Iqbal, bila upah minimum tidak naik maka daya beli masyarakat akan semakin
              turun.  Daya  beli  turun  akan  berakibat  jatuhnya  tingkat  konsumsi  juga  akan  jatuh.  Ujung-
              ujungnya berdampak negatif buat perekonomian.

              Pihaknya juga mengingatkan, tidak semua perusahaan kesulitan akibat pandemi COVID-19. Oleh
              karena itu, dia meminta kebijakan kenaikan upah dilakukan secara proporsional.

              Dengan kata lain, bagi perusahaan yang masih mampu harus menaikkan upah minimum. Lalu
              untuk perusahaan yang memang tidak mampu, undang-undang sudah menyediakan jalan keluar
              dengan melakukan penangguhan upah minimum.


                                                          1876
   1872   1873   1874   1875   1876   1877   1878   1879   1880   1881   1882