Page 4 - Desain 5 ( SENI BUDAYA)
P. 4
mengagumkan. Dengan uraian ini, menjadi jelas bahwa seni terdapat di mana-mana.
Itulahsebabnya kesenian secara antropologis ditempatkan sebagai unsur kebudayaan yang
universal.
sama seperti rasa keindahan yang juga bersifat universal. Tingkat kepekaan perasaan
keindahan akan berkembang lewat kegiatan menerima (sikap terbuka) kepada semua
manifestasi seni rupa, mengapresiasi aspek keindahan dan maknanya (seni lukis, seni
patung, seni grafs, desain, dan kriya) menghargai aspek keindahan dan kegunaannya (desain
produk atau industri, desain interior, desain komunikasi visual, desain tekstil, dan berbagai
karya kriya (kriya keramik, tekstil, kulit, kayu, logam dan lain-lain). Melalui proses
penginderaan, kita mendapatkan pengalaman estetis. Dari proses penghayatan yang intens,
kita akan mengamalkan rasa keindahan yang dianugerahkan Tuhan itu dalam kehidupan
sehari-hari. Kemampuan mengamati karya seni rupa murni dan seni rupa terapan, dalam
arti praksis adalah kemampuan mengklasifkasi, mendeskripsi, menjelaskan, menganalisis,
menafsirkan dan mengevaluasi serta menyimpulkan makna karya seni. Aktivitas ini dapat
dilatih sebagai kemampuan apresiatif secara lisan maupun tulisan. Aktivitas pendukung,
seperti membaca teori seni, termasuk sejarah seni dan reputasi seniman, dialog dengan
tokoh seniman serta budayawan, merupakan pelengkap kemampuan berapresiasi, sehingga
para siswa dapat menyertakan argumentasi yang logis dalam menyimpulkan makna seni.
Secara psikologis pengalaman pengindraan karya seni itu berurutan dari sensasi (reaksi
panca indra kita mengamati seni), emosi (rasa keindahan), impresi (kesan pencerapan),
interpretasi (penafsiran makna seni), apresiasi (menerima dan menghargai makna seni, dan
evaluasi (menyimpulkan nilai seni). Aktivitas ini berlangsung ketika seseorang mengindra
karya seni, biasanya sensasi tersebut diikuti dengan aktivitas berasosiasi, melakukan
komparasi, analogi, diferensiasi, dan sintesis. Pada umumnya karya seni yang dinilai baik
akan memberikan kepuasan spiritual dan intelektual bagi pengamatnya
C. Mengamalkan Perilaku Manusia Berbudaya dalam Kehidupan
Bermasyarakat
Berbudaya dalam Kehidupan Bermasyarakat Sebelum membahas perilaku manusia
berbudaya dalam kehidupan bermasyarakat, perlu dipahami terlebih dahulu hakikat
dan pengertian kebudayaan. Kata budaya berasal dari bahasa sansekerta, buddayah
bentuk jamak dari kata budhi yang berarti akal dan nalar. Jadi kata kebudayaan
dapat diartikan hal-hal yang berhubungan dengan budi, akal, dan nalar. Menurut
Koentjaraningrat, kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang
harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan
karyanya itu. Kebudayaan memiliki tiga wujud, (1) kebudayaan sebagai konsep, (2)
kebudayaan sebagai aktivitas, dan (3) kebudayaan sebagai artefak. Dengan klasifkasi
seperti ini seluruh aktivitas interaksi manusia dengan Tuhan, interaksi dengan
masyarakat, dan interaksi dengan alam, semuanya adalah kebudayaan. Kata budaya
sering juga dipadankan dengan kata adab, yang menunjukkan unsur-unsur budi
luhur dan indah. Misalnya, kesenian, sopan santun, dan ilmu pengetahuan, adalah
peradaban atau kebudayaan. Namun menurut Van Peursen, dewasa ini fIlsafat
kebudayaan modern akan meninjau kebudayaan terutama dari sudut policy tertentu,
sebagai satu strategi atau master plan bagi hari depan. Kebudayaan diartikan sebagai
manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang. Berlainan dengan
hewan-hewan, maka manusia tidak hidup begitu saja ditengah-tengah alam,
melainkan selalu mengubah alam itu. Dengan mengenal, memahami, dan
menghargai budayanya sendiri, orang dapat mengembangkan potensi perilaku yang
baik bergaul dengan masyarakat seni dan lingkungan sosial sebagai insan yang
berbudaya.

