Page 161 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 161

31
                  beras dan bahan-bahan makanan.  Sementara itu, komoditas yang dibawa dari pesisir
                  ke pedalaman antara lain kain, garam, tembakau Cina, opium, dan berbagai barang besi.
                  Di sini sungai memiliki peran yang menghubungkan antara pesisir dan pedalaman.
                        Daerah  pedalaman  menjadi  penopang  darah  penghasil  rempah.  Hal  ini  terjadi
                  karena  di  daerah  penghasil  rempah  prioritas  masyarakat  lebih  cenderung  untuk  tidak
                  menanam tanaman pangan. Oleh karenanya, tanaman pangan didatangkan dari daerah
                  lain,  termasuk  daerah  pedalaman.  Dengan  demikian,  daerah  pedalaman  berperan
                  menjaga siklus produksi yang dilakukan oleh masyarakat di daerah penghasil rempah
                  yang menjadi faktor penarik perdagangan dan pelayaran samudera.
                        Selain  upaya  saling  memenuhi  kebutuhan  antara  daerah  pedalaman  dan  pesisir,
                  ada  pula  bukti  yang  menguatkan  bahwa  aspek  kemaritiman  telah  dikenal  di  daerah
                  pedalaman. Hal ini tampak dari adanya relief yang menceritakan aktivitas kemaritiman
                  di Borobdur. Selain itu, dalam prasasti bertanggal 17 Mei 827 yang ditemukan di kaki
                  Gunung  Sumbing  (Temanggung,  Jawa  Tengah)  disebutkan  adanya  jabatan  nahkoda
                  kapal (Daŋ Puhāwaŋ Glis) dari Sumatera yang memberikan persembahan kepada sīma-
                      32
                  nya.





























                               (a)                                         (b)
                  Keterangan
                  (a)  Foto relief  tentang aktivitas pelayaran
                  (b)  Foto relief perahu bercadik di Borobudur

                          Gambar 1. Salah satu relief di Borobudur tentang aktivitas kemaritiman
                                                    (Sumber: kitlv.nl)




                  31    Ibid. Hlm. 144-151. Lihat juga A.B. Lapian. Op.cit. hlm 79-95; Sartono Kartodirdjo. 2014. Pengantar
                     Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 dari Emporium sampai Imperium. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
                     Hlm. 10-12, 145.
                  32
                      Bambang Budi Utomo. Op.cit. Hlm. 15.



                                                           12
   156   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166