Page 81 - Konpers Penindakan Obat Tradisional dan Pangan Olahan
P. 81
Judul : BPOM Temukan 50 Ribu Tautan Penjualan Obat Ilegal Terkait Covid-19
Nama Media : jawapos.com
Tanggal : 25 September 2020
Halaman/URL : https://www.jawapos.com/nasional/hukum-
kriminal/26/09/2020/bpom-temukan-50-ribu-tautan-penjualan-obat-
ilegal-terkait-covid-19/
Tipe Media : Online
Pada 2019, Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM) berhasil
mengidentifikasi 24.573 tautan penjualan
obat dan makanan ilegal. Tahun ini, belum
genap setahun (Januari–Juni), terjadi
peningkatan hampir 100 persen, yakni
48.058 tautan penjualan obat dan
makanan ilegal.
”Obat ilegal ini bisa jadi mengandung
bahan kimia berbahaya dan produk yang
juga untuk obat uji Covid-19,” tutur Kepala BPOM Penny K. Lukito. Obat-obat yang
terkait dengan Covid-19 seperti hydroxychloroquine, azithromycin, dan
dexamethasone banyak dijual secara ilegal.
Hasil patroli siber sejak Maret lalu, ditemukan hampir 50 ribu tautan yang menjual
obat-obat tersebut. Tautan itu, menurut Penny, telah di-take down. ”Ini tidak akan
terjadi kalau tidak ada yang membeli,” ucapnya.
Penny menyatakan bahwa obat keras tersebut harus dibeli dengan resep dokter.
Masyarakat biasa yang tak memiliki resep atau tidak sakit dilarang membelinya.
Kondisi serupa terjadi pada penjualan obat dan makanan ilegal yang tidak terkait
dengan Covid-19. Selama kurun waktu Maret hingga September, telah dilakukan
operasi penindakan di 29 provinsi. Nilai temuan barang buktinya sebesar Rp 46,7
miliar.
Khusus operasi pemberantasan penyalahgunaan obat-obat tertentu (OOT), selama
kurun waktu yang sama BPOM berhasil melakukan penindakan di 13 provinsi.
”Jumlah barang buktinya 1.632.349 butir OOT senilai Rp 4,04 miliar,” ungkap Penny.
Temuan terbaru didapat pada Rabu (23/9), yakni temuan barang bukti sebanyak 60
item obat tradisional tanpa izin edar. Seluruhnya berjumlah 78.412 pcs yang
diperkirakan mencapai nilai keekonomian sebesar Rp 3,25 miliar. ”Untuk sementara,
diketahui bahwa modus operandi pelaku adalah mengedarkan obat tradisional dan
pangan olahan ilegal melalui platform e-commerce. Serta mendistribusikan produk
tersebut melalui jasa transportasi online dan ekspedisi,” ungkap Penny.

