Page 91 - Stabilitas Edisi 188 Tahun 2022
P. 91
Pertahanan sebesar 39 persen atau kini telah selesai melakukan program
Rp3,95 triliun. restrukturisasi hutang perbankan, diikuti
Kinerja ini tidak diraih dengan PAL yang masih dalam proses. Defend
mudah, apalagi jika dibandingkan Id juga akan melakukan restrukturisasi
sebelum holding itu terbentuk. keuangan holding. Berjalan beriringan,
Sebabnya, Bobby bercerita, ketika saat ini Defend ID juga tengah
memimpin Len Industri sejak 2020 silam, menggarap proyek senilai Rp 48,7 triliun.
dirinya menemukan sejumlah masalah “Tantangannya kini adalah mempercepat
tata kelola. Di antaranya adalah identitas delivery produk dengan tepat waktu,” ujar
perusahaan tidak jelas karena tidak Bobby lebih lanjut.
fokus pada bisnisnya. Bobby menemukan Selain itu, kabar baik lainnya, terdapat
perusahaan ini mengerjakan bermacam potensi kontrak yang sinergi dan beririsan
macam bisnis. Bahkan, Len Industri kala antar anggota holding yang nilainya bisa
itu mau masuk ke Pertashop. mencapai Rp15,6 triliun. Nilai tersebut
Pertashop sendiri merupakan outlet meliputi motor listrik, kendaraan Anoa,
penjualan Pertamina berskala tertentu ICCS Kavaleri, Radar GCI, prasarana
yang dipersiapkan untuk melayani BBM perkeretaapian, refurbishment KRI
non subsidi, LPG non subsidi dan produk Sigma & Bung Tomo, kapal LPD (Landing
Pertamina lainnya. Tentunya, tidak ada Platform Dock), Datalink TNI AU, drilling
identitas Len di sana. Mengingat identitas & blasting service, pengembangan sistem
Len adalah electronic company, harusnya Bobby Rasyidin, rudal nasional, roket RHan 122B, reverse
melekatnya di elektronikanya, sistem Direktur Utama PT Len Industri engineering rudal, dan lainnya.
komputasinya. “Inilah yang dalam satu
setengah tahun ini saya benahi,” jelas Dukungan PMn
Bobby dalam satu kesempatan terpisah Untuk mendukung realisasi kontrak
barubari ini. Tingkat utang jauh lebih strategis tersebut, Defend ID mengusulkan
Sebagai akibat dari Len tidak fokus penyertaan modal negara (PMN) sebesar
pada bisnisnya maka biaya produksinya tinggi dari kemampuan Rp3 triliun pada tahun depan. Suntikan
tinggi. Hal itu menyebabkan kinerja modal negara ini di antaranya untuk
keuangannya pun berat. Kinerja membayar. Utang ini meningkatkan kapasitas produksi
keuangan Len kala itu tidak sesuai mau nggak mau kita sehingga bisa memenuhi kontrak. Adapun
dengan kaidah keuangan yang normal. target kontrak holding tahun ini sebesar
Sebabnya, tingkat utang jauh lebih lakukan restrukturisasi. Rp35 triliun telah tercapai. Namun, Defend
tinggi dari kemampuan membayar. ID harus terus meningkatkan penguasaan
“Utang ini mau nggak mau kita lakukan Kita panjangin, kita teknologinya sehingga bisa produksi lebih
restrukturisasi. Kita panjangin, kita negosiasi bunganya, optimal.
negosiasi bunganya, tenornya kita Tak cuma itu, kapasitas produksi juga
panjangin, sehingga disesuaikan dengan tenornya kita panjangin, perlu ditingkatkan. Sebagai contoh, PT
kemampuan kita membayarnya,” tukas Pindad telah mengantongi kontrak untuk
Bobby. sehingga disesuaikan 4,5 miliar peluru. Padahal, kapasitas
Alhasil dengan restrukturisasi dan dengan kemampuan kita Pindad hanya 300 juta peluru setahun.
refocusing bisnis, di akhir 2021 Len bisa “Kalau 4,5 miliar butir peluru kan artinya
mencetak kinerja positif, bersamaan membayarnya. 1 miliar per tahun sampai 2024,” ujarnya
dengan anggota holding BUMN industri seraya menegaskan semua perusahaan
pertahanan atau Defend ID lainnya. holding menghindari impor untuk
Perseroan telah menetapkan delapan memenuhi permintaan. “Maka kita perlu
program strategis, di antaranya meningkatkan kapasitas produksinya,”
meningkatkan EBITDA holding secara imbuhnya. Maka, PMN ini diperlukan
fundamental, serta memperbaiki untuk menjamin keberlanjutan peralatan
cashflow agar dapat landing di akhir peralatan holding industri pertahanan.
tahun sesuai RKAP. “Jadi butuh investasi dengan PMN, bukan
Menurut Bobby, Len dan PT DI untuk bayar utang,” tegasnya.*
www.stabilitas.id Edisi 188 / 2022 / Th.XVII 91

