Page 164 - Land Reform Lokal Ala Ngandagan: Inivasi system Tenurial Adat di Sebuah Desa Jawa, 1947-1964
P. 164

Dinamika Politik Nasional di Era 1960-an dan Dampaknya di Desa Ngandagan


             sama sekali ataupun dari lapisan petani berlahan sempit,
             misalnya para penerima sawah buruhan. Adapun kategori
             buruh tani dalam tabel di atas dengan sendirinya merujuk
             kepada mereka yang tidak memiliki tanah sama sekali dan
             juga tidak mampu melakukan usahatani sendiri dengan
             menyakap tanah milik orang lain, sehingga ia hanya bisa
             menjual tenaganya saja sebagai pekerja upahan di bidang
             pertanian.
                 Dari kedua kategori terakhir ini dapat disimpulkan
             bahwa hanya dalam waktu kurang dari sewindu setelah
             kematian Soemotirto, telah terbentuk lapisan warga desa
             yang bekerja di bidang pertanian namun tanpa memiliki
             tanah sama sekali (kelas tuna kisma) yang jumlahnya antara
             13-41 rumahtangga. Hanya saja tidak bisa dipastikan apakah
             lapisan baru ini muncul dari keluarga-keluarga yang baru
             menikah, ataukah juga terjadi kasus-kasus penarikan sawah
             buruhan oleh petani kuli baku yang meminta kembali
             pecahan tanah kulian yang dulu oleh pemerintah desa
             diminta untuk disisihkan bagi buruh kuli.






















                                                             135
   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169